Aceh Utara | Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara meninggalkan luka mendalam bagi ratusan ribu warga. Data sementara Pusat Informasi Posko Bencana Banjir BPBD Aceh Utara per 23 Desember 2025 pukul 10.00 WIB mencatat, skala dampak banjir kali ini tergolong salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Sebanyak 124.536 kepala keluarga atau 433.087 jiwa tercatat terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, 19.254 kepala keluarga dengan 68.424 jiwa terpaksa meninggalkan rumah dan kini bertahan di 210 titik pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
Tragedi kemanusiaan ini juga merenggut nyawa. Sebanyak 190 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 6 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Tak kurang dari 2.127 warga mengalami luka-luka, termasuk kelompok rentan yang kini membutuhkan perhatian khusus: 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lansia, serta 513 penyandang disabilitas.
Kerusakan permukiman warga terjadi hampir di seluruh wilayah terdampak. Sebanyak 72.331 rumah terendam, 3.474 rumah hanyut, 6.234 rumah rusak berat, 7.972 rusak sedang, dan 20.886 rumah rusak ringan. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan sumber penghidupan dalam sekejap.
Banjir juga melumpuhkan sektor pangan dan infrastruktur. Sebanyak 14.509 hektare sawah dan 10.674 hektare tambak terendam, mengancam ketahanan pangan masyarakat. Infrastruktur jalan mengalami kerusakan di 432 ruas, termasuk 113 ruas rusak berat. Sistem irigasi, tanggul sungai, dan 78 titik jembatan turut rusak, memutus akses antarwilayah.
Dunia pendidikan tak luput dari dampak. Sebanyak 383 sekolah mengalami kerusakan, mayoritas rusak berat. Ribuan sarana pendidikan ikut hancur, mulai dari alat peraga pendidikan, mobiler, perangkat TIK, alat laboratorium, hingga puluhan ribu buku pelajaran.
Fasilitas kesehatan pun terdampak serius. Empat puskesmas rusak berat dan 11 rusak sedang, sementara 61 pustu rusak berat. Kondisi ini memperberat upaya pelayanan kesehatan di tengah meningkatnya kebutuhan medis para pengungsi.
Rumah ibadah dan pusat kehidupan sosial masyarakat ikut porak-poranda. Ratusan masjid, meunasah, serta dayah dan pesantren mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan. Sektor perikanan, kelautan, dan ekonomi rakyat ikut terpukul, dengan ribuan IKM dan UMKM, pasar, rumah nelayan, kapal motor, hingga lahan tambak terdampak banjir.
Banjir ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan krisis kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan solidaritas semua pihak. Di balik angka-angka besar tersebut, tersimpan kisah kehilangan, ketakutan, dan harapan warga Aceh Utara yang kini menanti uluran tangan dan pemulihan kehidupan mereka.









