Banda Aceh – Angka kemiskinan di Provinsi Aceh dilaporkan mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh angka 17 sekian persen. Meroketnya angka kemiskinan ini terjadi pasca enam bulan bencana hidrometeorologi melanda wilayah Serambi Mekah tersebut.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, mengungkapkan bahwa hilangnya mata pencarian masyarakat serta rusaknya berbagai fasilitas umum menjadi pemicu utama di balik tren negatif ekonomi ini. Oleh sebab itu, prioritas penanganan pemulihan pasca-bencana kini harus difokuskan pada pembenahan sektor-sektor vital penopang ekonomi rakyat.
Berikut fakta-fakta yang dirangkum detikSumut terkait melonjaknya angka kemiskinan di Aceh:
1. Kemiskinan Melonjak dari 12 ke 17 Persen
Mualem menjelaskan, program pengentasan kemiskinan di Aceh sebenarnya sudah mulai menunjukkan hasil dan hampir rampung. Namun, hantaman bencana hidrometeorologi seketika membalikkan keadaan.
“Sebenarnya (pengentasan) kemiskinan sudah mulai rampung. Tapi karena musibah, (naik) dari 12 menjadi 17 persen sekian,” kata Mualem usai rapat koordinasi dan evaluasi percepatan pemulihan bencana di ruang serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026). Rapat tersebut turut dihadiri oleh Mendagri Tito Karnavian.
2. Hilangnya Mata Pencarian Jadi Faktor Utama
Bencana alam yang terjadi merusak infrastruktur pendukung yang berimbas langsung pada mata pencarian warga. Kehilangan pendapatan inilah yang menyeret sebagian masyarakat kembali ke bawah garis kemiskinan. Tanpa adanya fasilitas umum yang memadai, perputaran ekonomi warga menjadi lumpuh.
3. Sawah hingga Jembatan Butuh Penanganan Darurat
Guna mempercepat pemulihan ekonomi, Pemerintah Provinsi Aceh kini mendesak perbaikan infrastruktur publik yang berkaitan langsung dengan sektor produksi masyarakat. Beberapa fasilitas darurat yang perlu segera ditangani meliputi area pertanian dan akses transportasi.
“Kita di Aceh (membutuhkan) sawah, irigasi, jembatan, jalan, tanah, yang berkaitan dengan mata pencarian masyarakat,” ujar Mualem.
4. Dua Kabupaten Alami Dampak Terparah
Dari seluruh wilayah di Tanah Rencong, Mualem menyebutkan ada dua daerah yang mencatatkan kerusakan paling masif akibat bencana hidrometeorologi ini. Dua wilayah tersebut adalah Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Tamiang. Alhasil, fokus pemulihan pasca-bencana akan dicurahkan penuh ke kedua daerah tersebut.
“Aceh Tamiang dan Aceh Utara itu paling berat terdampak,” pungkas Mualem.








