JAKARTA – Perairan Laut Mediterania kembali menelan korban jiwa. Sebanyak 50 orang dilaporkan tewas atau hilang setelah kapal yang membawa sekitar 60 migran terbalik di lepas pantai timur Libya, tepatnya di dekat Pulau Bardaa, tidak jauh dari Kota Tobruk.
Peristiwa nahas yang terjadi pada Selasa (14/7/2026) waktu setempat ini menambah panjang daftar tragedi kemanusiaan di jalur migrasi menuju Eropa.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan keterangan otoritas Penjaga Pantai Libya, kapal tersebut mengangkut para migran termasuk perempuan dan anak-anak yang berupaya menyeberangi Laut Mediterania demi mencapai pantai Eropa. Namun, di tengah perjalanan, kapal mengalami kecelakaan dan terbalik.
“Sebanyak 10 orang berhasil selamat dengan berenang ke Pulau Bardaa, sementara pencarian terhadap korban lainnya masih terus dilakukan,” demikian pernyataan Penjaga Pantai Libya yang dikutip The Associated Press.
Jalur Paling Mematikan
Libya telah bertahun-tahun menjadi titik keberangkatan utama bagi migran dari Afrika dan Timur Tengah. Kondisi ketidakstabilan politik di negara tersebut membuat jaringan penyelundup manusia leluasa beroperasi. Para penyelundup kerap menggunakan kapal kecil yang kelebihan muatan dan tidak layak berlayar, sehingga risiko kecelakaan sangat tinggi.
Tragedi ini menjadi yang kedua dalam waktu singkat. Pada bulan lalu, kecelakaan serupa di lepas pantai timur Libya juga menyebabkan 51 migran tewas atau hilang.
Catatan Kritis IOM
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat bahwa jalur Mediterania tengah merupakan rute migrasi paling mematikan di dunia. Sepanjang periode 1 Januari hingga 16 Mei 2026, tercatat lebih dari 800 migran tewas atau hilang. Angka ini melanjutkan tren buruk tahun lalu di mana lebih dari 1.300 orang kehilangan nyawa di jalur yang sama.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih berupaya mencari penumpang lain yang belum ditemukan nasibnya di tengah arus laut yang berbahaya.









