Jakarta – Meski Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk meredam eskalasi konflik, militer Israel tampaknya belum punya rencana untuk angkat kaki dari Lebanon. Pasukan Zionis justru mengisyaratkan bakal tetap bercokol di wilayah tersebut untuk jangka waktu yang lama.
Mengutip laporan stasiun penyiaran publik Israel, KAN, pada Rabu (17/6/2026), sumber keamanan setempat menegaskan bahwa militer Israel telah menyiapkan diri untuk tetap bertahan di Lebanon jika diperintahkan oleh otoritas politik. Bahkan, mereka mengaku siap menghadapi segala skenario yang mungkin terjadi di lapangan.
Saat ini, intensitas konflik di perbatasan Lebanon-Israel justru masih tinggi. Serangan militer Israel di Lebanon selatan terus dilancarkan, diiringi dengan rentetan tembakan balasan yang menyasar wilayah Israel utara. Laporan di lapangan menyebutkan pasukan Israel bahkan sudah menembus lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Kondisi ini terjadi di tengah kabar akan adanya penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Kesepakatan yang ditengahi oleh Pakistan tersebut dijadwalkan akan diteken secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026) mendatang.
Perjanjian tersebut sejatinya memuat poin krusial mengenai penghentian eskalasi militer di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Namun, sikap Israel yang enggan menarik pasukan tentu menjadi tantangan besar.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pun angkat bicara. Ia menegaskan bahwa kunci utama berakhirnya perang regional adalah penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon. Bagi Iran, jika Israel tetap bertahan, itu sama saja dengan mengabaikan nota kesepahaman yang telah disepakati bersama.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Tel Aviv mengenai kapan penarikan pasukan akan dilakukan, di tengah upaya internasional yang kian gencar demi meredakan ketegangan yang memuncak sejak akhir Februari lalu.









