Genta Post
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Opini
  • Artikel
No Result
View All Result
Subscribe
Genta Post
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Opini
  • Artikel
No Result
View All Result
Genta Post
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artikel
  • Opini
Ketika “Aku” Mengalahkan “Kita”: Pelajaran Al-Qur’an tentang Bahaya Ego Pemimpin

Ketika “Aku” Mengalahkan “Kita”: Pelajaran Al-Qur’an tentang Bahaya Ego Pemimpin

Redaksi by Redaksi
11 Agustus 2026
in Artikel, News
0
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Gentapost.com | Salah satu penyakit yang paling sulit dikenali manusia adalah kesombongan. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk perilaku kasar, wajah angkuh, atau ucapan yang merendahkan orang lain. Kesombongan sering kali bersembunyi di balik kalimat yang terdengar biasa, bahkan seolah-olah menunjukkan rasa percaya diri. Salah satunya adalah ungkapan, “Sejak saya memimpin, semua program berhasil,” atau “Kalau bukan karena saya, organisasi ini tidak akan maju.” Kalimat seperti ini mungkin dianggap lumrah dalam dunia kepemimpinan modern. Namun, jika dicermati melalui perspektif Al-Qur’an, ungkapan tersebut patut menjadi bahan introspeksi karena dapat mencerminkan dominasi ego yang berlebihan.

Al-Qur’an tidak melarang manusia mengakui keberhasilan atau menyampaikan fakta. Seorang pemimpin memang boleh menjelaskan capaian organisasinya sebagai bentuk akuntabilitas. Akan tetapi, ketika keberhasilan itu dinisbatkan sepenuhnya kepada diri sendiri, sementara peran Allah, kerja keras tim, dan dukungan banyak pihak diabaikan, di situlah muncul “aku” yang berbahaya. Ego mengambil alih ruang syukur, dan kepemimpinan bergeser dari amanah menjadi panggung untuk memuliakan diri sendiri.

Al-Qur’an menghadirkan tiga tokoh yang menjadi simbol kesombongan: Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Ketiganya memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu penyakit hati, yaitu menempatkan “aku” di atas kebenaran dan di atas kehendak Allah.

Konten Terkait

Jelang Musda X, DPD II Partai Golkar Aceh Tenggara Gelar Rapat Pleno

Jelang Musda X, DPD II Partai Golkar Aceh Tenggara Gelar Rapat Pleno

14 September 2026
Ketua DPRK Aceh Utara Arafat Ali Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah ke 20 SD di Kuta Makmur, Bantu Pemulihan Pasca Banjir

Ketua DPRK Aceh Utara Arafat Ali Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah ke 20 SD di Kuta Makmur, Bantu Pemulihan Pasca Banjir

14 September 2026
Wagub Aceh Tutup Milad Samudera Pasai ke-800, Ayah Wa Gaungkan “Aceh Utara Bangkit”

Wagub Aceh Tutup Milad Samudera Pasai ke-800, Ayah Wa Gaungkan “Aceh Utara Bangkit”

14 September 2026
Ilmu Vs Ideologi: Ketika Kebenaran Dipaksa Mengikuti Kepentingan

Ilmu Vs Ideologi: Ketika Kebenaran Dipaksa Mengikuti Kepentingan

13 September 2026

Pertama, Iblis adalah contoh kesombongan karena merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ketika Allah memerintahkannya bersujud kepada Nabi Adam, ia menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12). Kalimat itu menunjukkan bahwa kesombongan lahir dari perasaan superior. Iblis tidak mempertimbangkan bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh asal penciptaannya, tetapi oleh ketaatannya kepada Allah.

Dalam konteks kepemimpinan, sikap serupa dapat muncul ketika seorang pemimpin merasa dirinya paling cerdas, paling berjasa, atau paling layak menerima penghargaan. Ia sulit menerima kritik karena menganggap pendapatnya selalu benar. Keputusan menjadi sangat bergantung pada kehendaknya sendiri, sementara masukan dari bawahan dipandang sebagai ancaman. Padahal, kepemimpinan yang sehat dibangun melalui musyawarah, keterbukaan, dan kerendahan hati.

Tokoh kedua adalah Qarun. Ia dikenal sebagai manusia yang dianugerahi kekayaan luar biasa. Namun, ketika diingatkan agar bersyukur kepada Allah, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al-Qashash: 78). Qarun menganggap keberhasilannya murni hasil kecerdasan dan usahanya sendiri. Ia melupakan bahwa kemampuan berpikir, kesempatan, kesehatan, serta rezeki merupakan karunia Allah.

Fenomena Qarun sangat relevan dengan sebagian gaya kepemimpinan masa kini. Tidak sedikit pemimpin yang berkata, “Semua program berhasil karena strategi saya,” atau “Lembaga ini maju karena kepemimpinan saya.” Pernyataan seperti itu mengandung risiko mengabaikan kerja kolektif. Padahal, keberhasilan sebuah organisasi lahir dari kontribusi banyak orang: pegawai, staf lapangan, relawan, masyarakat, serta doa dan pertolongan Allah. Seorang pemimpin hanyalah bagian dari sistem yang lebih besar. Ketika semua keberhasilan dipusatkan pada satu sosok, maka kepemimpinan berubah menjadi kultus individu.

Adapun ketiga, Fir’aun merupakan simbol kesombongan kekuasaan. Ia berkata kepada kaumnya, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-Nazi’at: 24). Fir’aun menempatkan dirinya sebagai pusat segala keputusan dan merasa tidak membutuhkan petunjuk Allah. Kekuasaan membuatnya kehilangan kesadaran bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.

Dalam kehidupan modern, tentu tidak banyak orang yang mengaku sebagai tuhan. Namun, semangat Fir’aun dapat muncul dalam bentuk lain, yaitu ketika seorang pemimpin bertindak seolah-olah dirinya tidak pernah salah, tidak dapat dikritik, dan menganggap keberhasilan organisasi identik dengan dirinya. Ia menuntut loyalitas kepada pribadi, bukan kepada nilai dan tujuan bersama. Kritik dianggap sebagai serangan, sedangkan pujian menjadi kebutuhan. Inilah bentuk ego kekuasaan yang diperingatkan Al-Qur’an.

Ungkapan, “Ketika saya memimpin semua program berhasil,” tidak selalu salah. Jika disampaikan sebagai laporan yang objektif dan tetap mengakui peran Allah serta kerja tim, kalimat tersebut masih dapat dipahami. Namun, jika diucapkan untuk membangun citra pribadi, merendahkan pemimpin sebelumnya, atau menghapus kontribusi orang lain, maka sikap itu patut diwaspadai. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesombongan sering kali dimulai dari cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Pemimpin yang baik justru akan berkata, “Alhamdulillah, atas izin Allah dan kerja keras seluruh tim, program ini berhasil.” Kalimat sederhana ini menunjukkan kesadaran bahwa keberhasilan merupakan hasil sinergi antara ikhtiar manusia dan pertolongan Allah. Tidak ada satu pun pemimpin yang mampu bekerja sendirian. Di balik setiap keberhasilan selalu ada orang-orang yang bekerja dalam diam, memberikan ide, tenaga, waktu, bahkan pengorbanan yang sering tidak terlihat.

Nabi Muhammad saw. memberikan teladan kepemimpinan yang sangat berbeda. Meskipun beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, sekaligus utusan Allah, beliau tidak pernah membanggakan diri. Dalam berbagai kesempatan, beliau bermusyawarah dengan para sahabat, menerima usulan yang lebih baik, bahkan mengakui pendapat orang lain apabila lebih tepat. Keteladanan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk bersikap rendah hati.

Kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa sering nama pemimpin disebut dalam setiap keberhasilan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin bukan pemilik keberhasilan, melainkan pengemban amanah. Ia tidak membangun monumen untuk dirinya sendiri, tetapi membangun sistem yang mampu melahirkan keberhasilan secara berkelanjutan meskipun kelak ia tidak lagi menjabat.

Karena itu, setiap pemimpin perlu terus melakukan muhasabah. Jangan sampai keberhasilan melahirkan kesombongan, jabatan melahirkan keangkuhan, dan pujian melahirkan lupa diri. Iblis, Qarun, dan Fir’aun tidak hancur karena kekurangan kemampuan, melainkan karena gagal mengendalikan ego. Mereka menjadikan “aku” lebih besar daripada kebenaran dan lebih besar daripada ketundukan kepada Allah.

Di tengah krisis keteladanan yang masih kita rasakan, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang lebih sering mengatakan “kita” daripada “aku”, lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri, serta lebih sibuk melayani daripada mencari pengakuan. Sebab, dalam pandangan Al-Qur’an, kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa sering ia mengklaim keberhasilan, melainkan dari seberapa besar kerendahan hatinya dalam mengakui bahwa setiap nikmat, kemenangan, dan pencapaian pada akhirnya adalah karunia Allah Swt.

Penulis: Muhammad Munir An-Nabawi, M.Psi Dosen UIN Sultanah Narasiyah Lhokseumae
Tags: Artikelberita acehNews
ShareTweetPin
Previous Post

Peduli Korban Banjir, Kapolsek dan Camat Samudera Kawal Penyaluran Bantuan

Next Post

Suriah Jatuhkan Hukuman Mati terhadap Bashar al-Assad atas Kasus Pembunuhan dan Penyiksaan

Konten Terkait

Jelang Musda X, DPD II Partai Golkar Aceh Tenggara Gelar Rapat Pleno
News

Jelang Musda X, DPD II Partai Golkar Aceh Tenggara Gelar Rapat Pleno

14 September 2026

GENTAPOST.COM | ACEH TENGGARA- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kabupaten Aceh Tenggara...

Ketua DPRK Aceh Utara Arafat Ali Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah ke 20 SD di Kuta Makmur, Bantu Pemulihan Pasca Banjir
News

Ketua DPRK Aceh Utara Arafat Ali Salurkan Bantuan Perlengkapan Sekolah ke 20 SD di Kuta Makmur, Bantu Pemulihan Pasca Banjir

14 September 2026

ACEH UTARA, – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara, Arafat Ali, S.E.,...

Wagub Aceh Tutup Milad Samudera Pasai ke-800, Ayah Wa Gaungkan “Aceh Utara Bangkit”
News

Wagub Aceh Tutup Milad Samudera Pasai ke-800, Ayah Wa Gaungkan “Aceh Utara Bangkit”

14 September 2026

Lhoksukon – Rangkaian peringatan Hari Milad Samudera Pasai ke-800 resmi berakhir. Penutupan perhelatan bersejarah...

Ilmu Vs Ideologi: Ketika Kebenaran Dipaksa Mengikuti Kepentingan
Artikel

Ilmu Vs Ideologi: Ketika Kebenaran Dipaksa Mengikuti Kepentingan

13 September 2026

GENTAPOST.COM - Ilmu dan ideologi sama-sama memiliki kekuatan dalam membentuk cara manusia melihat dunia....

Next Post
Suriah Jatuhkan Hukuman Mati terhadap Bashar al-Assad atas Kasus Pembunuhan dan Penyiksaan

Suriah Jatuhkan Hukuman Mati terhadap Bashar al-Assad atas Kasus Pembunuhan dan Penyiksaan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2025 PT. Genta Intermedia Global - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artikel
  • Opini

© 2025 PT. Genta Intermedia Global - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.