Gentapost.com | Salah satu penyakit yang paling sulit dikenali manusia adalah kesombongan. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk perilaku kasar, wajah angkuh, atau ucapan yang merendahkan orang lain. Kesombongan sering kali bersembunyi di balik kalimat yang terdengar biasa, bahkan seolah-olah menunjukkan rasa percaya diri. Salah satunya adalah ungkapan, “Sejak saya memimpin, semua program berhasil,” atau “Kalau bukan karena saya, organisasi ini tidak akan maju.” Kalimat seperti ini mungkin dianggap lumrah dalam dunia kepemimpinan modern. Namun, jika dicermati melalui perspektif Al-Qur’an, ungkapan tersebut patut menjadi bahan introspeksi karena dapat mencerminkan dominasi ego yang berlebihan.
Al-Qur’an tidak melarang manusia mengakui keberhasilan atau menyampaikan fakta. Seorang pemimpin memang boleh menjelaskan capaian organisasinya sebagai bentuk akuntabilitas. Akan tetapi, ketika keberhasilan itu dinisbatkan sepenuhnya kepada diri sendiri, sementara peran Allah, kerja keras tim, dan dukungan banyak pihak diabaikan, di situlah muncul “aku” yang berbahaya. Ego mengambil alih ruang syukur, dan kepemimpinan bergeser dari amanah menjadi panggung untuk memuliakan diri sendiri.
Al-Qur’an menghadirkan tiga tokoh yang menjadi simbol kesombongan: Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Ketiganya memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu penyakit hati, yaitu menempatkan “aku” di atas kebenaran dan di atas kehendak Allah.
Pertama, Iblis adalah contoh kesombongan karena merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Ketika Allah memerintahkannya bersujud kepada Nabi Adam, ia menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12). Kalimat itu menunjukkan bahwa kesombongan lahir dari perasaan superior. Iblis tidak mempertimbangkan bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh asal penciptaannya, tetapi oleh ketaatannya kepada Allah.
Dalam konteks kepemimpinan, sikap serupa dapat muncul ketika seorang pemimpin merasa dirinya paling cerdas, paling berjasa, atau paling layak menerima penghargaan. Ia sulit menerima kritik karena menganggap pendapatnya selalu benar. Keputusan menjadi sangat bergantung pada kehendaknya sendiri, sementara masukan dari bawahan dipandang sebagai ancaman. Padahal, kepemimpinan yang sehat dibangun melalui musyawarah, keterbukaan, dan kerendahan hati.
Tokoh kedua adalah Qarun. Ia dikenal sebagai manusia yang dianugerahi kekayaan luar biasa. Namun, ketika diingatkan agar bersyukur kepada Allah, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al-Qashash: 78). Qarun menganggap keberhasilannya murni hasil kecerdasan dan usahanya sendiri. Ia melupakan bahwa kemampuan berpikir, kesempatan, kesehatan, serta rezeki merupakan karunia Allah.
Fenomena Qarun sangat relevan dengan sebagian gaya kepemimpinan masa kini. Tidak sedikit pemimpin yang berkata, “Semua program berhasil karena strategi saya,” atau “Lembaga ini maju karena kepemimpinan saya.” Pernyataan seperti itu mengandung risiko mengabaikan kerja kolektif. Padahal, keberhasilan sebuah organisasi lahir dari kontribusi banyak orang: pegawai, staf lapangan, relawan, masyarakat, serta doa dan pertolongan Allah. Seorang pemimpin hanyalah bagian dari sistem yang lebih besar. Ketika semua keberhasilan dipusatkan pada satu sosok, maka kepemimpinan berubah menjadi kultus individu.
Adapun ketiga, Fir’aun merupakan simbol kesombongan kekuasaan. Ia berkata kepada kaumnya, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” (QS. An-Nazi’at: 24). Fir’aun menempatkan dirinya sebagai pusat segala keputusan dan merasa tidak membutuhkan petunjuk Allah. Kekuasaan membuatnya kehilangan kesadaran bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.
Dalam kehidupan modern, tentu tidak banyak orang yang mengaku sebagai tuhan. Namun, semangat Fir’aun dapat muncul dalam bentuk lain, yaitu ketika seorang pemimpin bertindak seolah-olah dirinya tidak pernah salah, tidak dapat dikritik, dan menganggap keberhasilan organisasi identik dengan dirinya. Ia menuntut loyalitas kepada pribadi, bukan kepada nilai dan tujuan bersama. Kritik dianggap sebagai serangan, sedangkan pujian menjadi kebutuhan. Inilah bentuk ego kekuasaan yang diperingatkan Al-Qur’an.
Ungkapan, “Ketika saya memimpin semua program berhasil,” tidak selalu salah. Jika disampaikan sebagai laporan yang objektif dan tetap mengakui peran Allah serta kerja tim, kalimat tersebut masih dapat dipahami. Namun, jika diucapkan untuk membangun citra pribadi, merendahkan pemimpin sebelumnya, atau menghapus kontribusi orang lain, maka sikap itu patut diwaspadai. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kesombongan sering kali dimulai dari cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Pemimpin yang baik justru akan berkata, “Alhamdulillah, atas izin Allah dan kerja keras seluruh tim, program ini berhasil.” Kalimat sederhana ini menunjukkan kesadaran bahwa keberhasilan merupakan hasil sinergi antara ikhtiar manusia dan pertolongan Allah. Tidak ada satu pun pemimpin yang mampu bekerja sendirian. Di balik setiap keberhasilan selalu ada orang-orang yang bekerja dalam diam, memberikan ide, tenaga, waktu, bahkan pengorbanan yang sering tidak terlihat.
Nabi Muhammad saw. memberikan teladan kepemimpinan yang sangat berbeda. Meskipun beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, sekaligus utusan Allah, beliau tidak pernah membanggakan diri. Dalam berbagai kesempatan, beliau bermusyawarah dengan para sahabat, menerima usulan yang lebih baik, bahkan mengakui pendapat orang lain apabila lebih tepat. Keteladanan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk bersikap rendah hati.
Kepemimpinan sejati bukanlah tentang seberapa sering nama pemimpin disebut dalam setiap keberhasilan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin bukan pemilik keberhasilan, melainkan pengemban amanah. Ia tidak membangun monumen untuk dirinya sendiri, tetapi membangun sistem yang mampu melahirkan keberhasilan secara berkelanjutan meskipun kelak ia tidak lagi menjabat.
Karena itu, setiap pemimpin perlu terus melakukan muhasabah. Jangan sampai keberhasilan melahirkan kesombongan, jabatan melahirkan keangkuhan, dan pujian melahirkan lupa diri. Iblis, Qarun, dan Fir’aun tidak hancur karena kekurangan kemampuan, melainkan karena gagal mengendalikan ego. Mereka menjadikan “aku” lebih besar daripada kebenaran dan lebih besar daripada ketundukan kepada Allah.
Di tengah krisis keteladanan yang masih kita rasakan, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang lebih sering mengatakan “kita” daripada “aku”, lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri, serta lebih sibuk melayani daripada mencari pengakuan. Sebab, dalam pandangan Al-Qur’an, kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa sering ia mengklaim keberhasilan, melainkan dari seberapa besar kerendahan hatinya dalam mengakui bahwa setiap nikmat, kemenangan, dan pencapaian pada akhirnya adalah karunia Allah Swt.









