GENTAPOST.COM – ACEH TIMUR | Kamis sore itu, bau lumpur masih menyergap di sepanjang Desa Tanjong Minje dan Ulee Ateung, Kecamatan Madat. Jalanan becek, tanah lengket menutupi pintu rumah, dan genangan air belum sepenuhnya surut.
Di beberapa sudut, anak-anak terlihat duduk memeluk lutut di teras meunasah, sedang orang tua berkutat mencari barang yang masih bisa diselamatkan.
Di tengah suasana itu, iring-iringan mobil berisi puluhan bungkusan sembako dan pakaian layak pakai tiba.
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Aceh Timur bersama jajaran pengurus dan para santri Dayah Nurul Hidayah Seuneubok Aceh (Idi Cut) datang bukan sekadar untuk menyerahkan bantuan mereka hadir untuk menyaksikan langsung bagaimana warga bertahan di tengah keterbatasan.
“Masyarakat mempercayakan bantuannya melalui kami untuk disalurkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tutur Ketua PC PMII Aceh Timur, M. Farhan Abdillah, sembari membantu menurunkan paket bantuan dari kendaraan.
Dalam proses distribusi, Farhan mengaku tidak bisa memungkiri kesedihan melihat kondisi lapangan. Jaringan komunikasi belum pulih, listrik padam sejak hari pertama banjir, sementara warga hanya mengandalkan bantuan yang datang dari luar.
“Lumpur masih sangat tebal di depan rumah warga. Situasinya belum pulih,” ujarnya dengan nada pelan.
Bagi rombongan relawan, kedatangan ini bukan sekadar aksi seremonial. Mereka berhenti di setiap titik pengungsian, menyalami warga, membagikan bungkusan sembari mendengar cerita orang-orang yang kehilangan rumah, barang berharga dan sebagian usaha.
Kepala SPM Ulya Dayah Nurul Hidayah Idi Cut, Tgk. Zulfadli, S.H, sesekali mengangguk pelan mendengarkan keluh kesah. Setelah paket terakhir didistribusikan, ia naik ke mobil bak terbuka dan menyampaikan pesannya lantang namun bergetar:
“Hari ini kami melihat langsung kondisi warga di sini. Mereka masih sangat membutuhkan uluran tangan kita semua.”
Tgk. Zulfadli juga berharap pihak terkait segera memperkuat distribusi bantuan. “Terutama logistik seperti sembako. Jangan menunggu, datanglah. Warga tidak hanya butuh makanan, tapi rasa aman,” tegasnya.
Di akhir rangkaian penyaluran, para relawan saling berpandangan seakan sepakat bahwa pekerjaan belum selesai. Mereka mungkin telah kembali ke Idi Cut malam itu, tetapi kenangan tentang wajah-wajah yang menahan lelah tetap tertinggal.
“Kami mengapresiasi semua pihak yang sudah mendukung hingga bantuan ini tersalurkan dengan lancar,” ucap tgk Zulfadli sebelum rombongan bergerak pulang.
Namun bagi mereka, bukan berapa banyak paket yang berhasil dibagikan yang menjadi inti perjalanan hari itu melainkan menyadari bahwa solidaritas tidak berhenti pada aksi, tetapi pada komitmen untuk kembali lagi saat warga masih membutuhkan.









