Aceh Besar – Objek wisata populer Bukit Lamreh kini ditutup untuk sementara waktu. Keputusan ini diambil sebagai langkah evaluasi total menyusul membanjirnya laporan masyarakat terkait praktik pungutan liar (pungli) dan aksi premanisme yang sangat meresahkan pengunjung.
Penutupan ini menjadi momentum krusial untuk membenahi sektor pariwisata di Aceh. Pasalnya, aksi premanisme di lokasi wisata tersebut sudah pada tahap yang tidak bisa ditoleransi.
Salah seorang pengunjung menceritakan pengalaman traumatis saat berada di Bukit Lamreh pada bulan April 2026 tepatnya hari Minggu. Saat itu, pengunjung tersebut sedang beristirahat namun tiba-tiba didatangi oleh sekelompok orang dengan cara yang tidak sopan, bahkan sempat melakukan pelemparan barang ke arah mereka.
Bukannya penjelasan baik-baik yang didapat, pengunjung tersebut justru dituduh melakukan perbuatan asusila di tempat ramai. Saat diminta pembuktian berupa video atau bukti lainnya, kelompok tersebut tidak mampu menunjukkan apa pun, namun tetap menyalahkan pengunjung.
“Ternyata mereka nggak bisa nunjukkin apa-apa. Nggak ada bukti, nggak ada video. Tapi tetap menyalahkan kami,” ungkap korban yang tidak ingin disebut namanya. Setelah didesak, kelompok tersebut akhirnya justru meminta maaf kepada pengunjung tersebut.
Ketua Banom Kominfo DPW Gekrafs Aceh, Teuku Rahmad Iqbal, menegaskan bahwa praktik pungli dan premanisme yang meresahkan wisatawan tidak boleh lagi dibiarkan. Ia menyoroti bahwa citra Aceh sebagai daerah yang religius dan ramah bisa runtuh akibat ulah segelintir oknum.
“Wisatawan datang untuk menikmati keindahan dan keramahan, bukan untuk menghadapi pungutan tidak jelas atau rasa tidak aman,” tegas Teuku Rahmad Iqbal
Ia juga mengingatkan bahwa di era digital saat ini, satu pengalaman buruk bisa menyebar lebih cepat daripada promosi yang dibangun. Penutupan sementara ini diharapkan menjadi langkah berani untuk pembenahan total dari sisi pengelolaan, keamanan, hingga pelayanan.
“Saatnya kita jaga marwah pariwisata Aceh. Jangan biarkan pungli mengalahkan keindahan. Jangan biarkan premanisme mengalahkan keramahan,” pungkasnya.









