BANDA ACEH — Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Aceh menunjukkan tren positif sepanjang Semester I 2026. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh mencatat nilai ekspor Aceh selama periode Januari hingga Juni 2026 mencapai USD366,66 juta atau sekitar Rp6,3 triliun, sementara nilai impor tercatat sebesar USD261,26 juta.
Capaian tersebut menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar USD105,40 juta, yang mencerminkan kuatnya kontribusi sektor ekspor terhadap perekonomian daerah.
Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Aceh, Leni Rahmasari, mengatakan total berat bersih barang ekspor Aceh selama enam bulan pertama tahun 2026 mencapai 7,09 juta ton.
“Komoditas ekspor Aceh masih didominasi sektor mineral, perkebunan, dan minyak sawit mentah yang menjadi tulang punggung devisa daerah,” ujarnya.
Berdasarkan data DJBC Aceh, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar devisa ekspor dengan nilai mencapai USD261,93 juta atau sekitar 71,4 persen dari total ekspor Aceh. Komoditas utama pada sektor ini adalah batu bara yang berasal dari Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya.
PT Mifa Bersaudara tercatat sebagai eksportir terbesar dengan kontribusi sebesar 72,87 persen, disusul PT Bara Energi Lestari dan PT Media Djaya Bersama. India menjadi negara tujuan utama ekspor batu bara Aceh dengan porsi mencapai 83,93 persen, selain China, Thailand, dan Vietnam.
Di posisi kedua, sektor perkebunan menyumbang devisa sebesar USD64,51 juta atau 17,6 persen dari total ekspor. Komoditas yang mendominasi sektor ini antara lain kopi, teh, maté, dan berbagai jenis rempah-rempah yang selama ini menjadi produk unggulan Aceh di pasar internasional.
Sementara itu, ekspor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) memberikan kontribusi devisa sebesar USD29,74 juta atau sekitar 8,1 persen. Total volume ekspor CPO mencapai 25,67 ribu ton dan seluruhnya dilakukan oleh PT Agro Murni. Singapura tercatat sebagai negara pembeli, dengan pengiriman fisik komoditas tersebut menuju sejumlah pelabuhan di India.
Dari sisi perkembangan kuartalan, nilai ekspor Aceh pada Kuartal II 2026 meningkat 13,82 persen menjadi USD195,18 juta dibandingkan Kuartal I. Meski demikian, total berat bersih ekspor pada periode yang sama mengalami penurunan tipis sebesar 7,19 persen.
Secara bulanan, kinerja ekspor Aceh menunjukkan pergerakan yang fluktuatif sebelum akhirnya melonjak signifikan pada Juni 2026. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai USD85,31 juta, menjadi capaian tertinggi sepanjang Semester I 2026.
Angka itu meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei 2026. Lonjakan tersebut didorong oleh membaiknya Harga Batu Bara Acuan (HBA) di pasar global serta meningkatnya volume pengiriman komoditas ekspor dari Aceh.
Peningkatan ekspor dan surplus perdagangan yang konsisten diharapkan dapat memperkuat daya saing ekonomi Aceh, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor industri dan investasi berbasis sumber daya alam serta komoditas unggulan daerah.









