LHOKSUKON | Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus mematangkan persiapan pelaksanaan Piasan Pasee 2026 dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-800 Kabupaten Aceh Utara. Perhelatan budaya tersebut dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, mulai 6 hingga 13 September 2026, di Lhoksukon.
Persiapan kegiatan menjadi perhatian serius Pemkab Aceh Utara. Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrap sapa Ayahwa didampingi Sekretaris Daerah Dayan Albar, S.Sos., M.A.P., memimpin rapat koordinasi pematangan persiapan partisipasi stand expo serta dukungan sponsorship untuk menyukseskan Piasan Pasee 2026.
Rapat koordinasi tersebut berlangsung pada Senin, 31 Agustus 2026 di Op Room Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Utara dan diikuti para kepala perangkat daerah, kepala bagian Setdakab, serta para camat dalam lingkungan Pemkab Aceh Utara.
Piasan Pasee 2026 tidak hanya menjadi perayaan hari jadi daerah, tetapi juga dirancang sebagai momentum untuk mengangkat kembali sejarah, adat, budaya, dan warisan peradaban Aceh Utara yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Samudera Pasai.
Rangkaian kegiatan akan dikemas melalui berbagai agenda budaya, keagamaan, sosial, pameran pembangunan, kuliner tradisional, olahraga tradisional hingga pertunjukan kolosal.
Pemkab Aceh Utara juga merencanakan pelaksanaan kegiatan tersebut dirangkaikan dengan kunjungan kerja Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, yang pelaksanaannya masih dalam tahap konfirmasi. Salah satu agenda yang disiapkan adalah deklarasi pelestarian warisan peradaban Kerajaan Samudera Pasai.
Sejumlah pejabat dan kepala daerah juga direncanakan hadir dalam rangkaian peringatan tersebut, termasuk unsur Pemerintah Aceh, para bupati dan wali kota se-Aceh, serta sejumlah kepala daerah dari wilayah rumpun Melayu di Sumatera Utara.
Rangkaian Piasan Pasee 2026 diawali pada 6 September 2026 dengan kegiatan ziarah ke kompleks makam Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasyiah. Agenda tersebut dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an, Samadiyah, tahlil, serta Rapat Paripurna Istimewa DPRK Aceh Utara.
Pada 7 September, kegiatan memasuki agenda utama peringatan Harlah ke-800. Sejumlah kegiatan yang disiapkan antara lain penyambutan kenegaraan Menteri Kebudayaan RI, Upacara Puncak Harlah ke-800, pertunjukan kolosal 800 penampil Rapa’i Pasee, serta pembukaan expo.
Selanjutnya, 8 September diisi Festival dan Lomba Kuliner “Kenduri Kuah Kari Pasee” yang melibatkan 27 kecamatan. Pada hari yang sama juga dijadwalkan seminar pengadilan adat dan Museum Pasee serta lomba peradilan adat.
Memasuki 9 September, masyarakat akan disuguhi Expo Inovasi Pertanian dan Mitigasi Bencana, lomba olahraga tradisional, serta pementasan drama sejarah Sultan Malik Al-Shaleh.
Nuansa keagamaan akan menjadi bagian penting pada 10 September melalui lomba baca kitab kuning, Fahmil dan Syarhil Qur’an, santunan kepada 800 anak yatim, serta Malam Dzikir Akbar dan Shalawat.
Sementara itu, pada 11 September dijadwalkan kegiatan gotong royong, donor darah, penanaman 800 pohon, fashion show busana adat bermotif Pasee, serta Grand Final Duta Wisata.
Pada 12 September, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan jalan santai dan sepeda santai, final permainan tradisional, serta Malam Kenduri Rakyat dan panggung seni.
Adapun rangkaian Piasan Pasee 2026 akan ditutup pada 13 September melalui pasar murah pangan, penampilan kembali pertunjukan kolosal, pengumuman pemenang berbagai perlombaan, seremoni penutupan, serta pesta kembang api.
Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar, Pemkab Aceh Utara menyiapkan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan unsur TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, pemangku adat, serta perangkat daerah terkait.
Selain persiapan rangkaian acara, Pemkab Aceh Utara juga mengajak dunia usaha, BUMN, BUMD, instansi vertikal, dan berbagai pihak untuk berpartisipasi melalui dukungan stand pameran maupun sponsorship.
Pelaksanaan Piasan Pasee 2026 mengacu pada Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pelestarian Adat dan Budaya Daerah, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keislaman dan pelaksanaan Syariat Islam serta melibatkan Majelis Adat Aceh (MAA).
Melalui momentum Harlah ke-800 tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap Piasan Pasee 2026 tidak sekadar menjadi perayaan hari jadi, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk memperkuat identitas daerah, melestarikan adat dan budaya, serta memperkenalkan kembali sejarah besar Samudera Pasai kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Delapan abad perjalanan Aceh Utara menjadi momentum untuk menengok sejarah, merawat budaya, dan membangun masa depan daerah secara bersama-sama. [Tgk M.Nasir]









