BANDA ACEH — Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke-67 tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Peringatan ini menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen bersama dalam membangun pendidikan Aceh yang tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga berkarakter, berakhlak, berintegritas dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kemajuan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari capaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi fondasi dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik.
Menurutnya, cita-cita besar pendidikan Aceh adalah melahirkan generasi Islami, unggul dan bermartabat—generasi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kokoh dalam iman dan akhlak.
“Pendidikan bukan hanya tentang bagaimana anak-anak kita menjadi pintar, tetapi bagaimana mereka tumbuh menjadi manusia yang beriman, berakhlak, memiliki kompetensi, berintegritas dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Murthalamuddin.
Ia menjelaskan, karakter Islami merupakan salah satu fondasi utama dalam pembangunan generasi Aceh. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai agama, moral dan budaya.
Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Peserta didik kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks, sehingga pendidikan dituntut tidak sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, keterampilan, kemampuan beradaptasi dan ketahanan karakter.
Menyiapkan Generasi yang Mampu Bersaing
Murthalamuddin mengatakan, generasi unggul adalah generasi yang mampu membaca perubahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mereka harus memiliki kompetensi, prestasi dan kepercayaan diri untuk bersaing, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional hingga global. Namun, menurutnya, keunggulan tidak boleh kehilangan arah.
Kemampuan akademik, penguasaan teknologi dan keterampilan harus tetap berpijak pada nilai moral dan etika. Sebab, kecerdasan tanpa karakter dapat kehilangan makna dalam kehidupan bermasyarakat.
“Generasi yang kita harapkan adalah generasi yang unggul dalam ilmu dan keterampilan, tetapi tetap kuat dalam iman dan akhlaknya. Inilah generasi yang akan membawa Aceh menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Pendidikan yang Melahirkan Generasi Bermartabat
Sementara itu, nilai bermartabat tidak dapat dipisahkan dari sikap dan karakter yang ditanamkan sejak dini.
Pendidikan diharapkan mampu melahirkan anak-anak yang menghargai orang tua dan guru, menghormati sesama, memiliki rasa tanggung jawab, serta menjunjung tinggi kejujuran dan integritas.
Dengan demikian, Hardikda Aceh ke-67 menjadi pengingat bahwa membangun pendidikan pada hakikatnya adalah membangun masa depan Aceh.
Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai, membentuk karakter dan menyiapkan generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Semangat Hardikda ke-67 pun diharapkan menjadi energi bersama bagi pemerintah, guru, tenaga kependidikan, orang tua dan seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat ekosistem pendidikan Aceh.
Sebab, Aceh yang maju tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi generasi yang berilmu, beriman, berkarakter, berprestasi dan bermartabat.









