Aceh Utara | Ratusan hektare sawah milik petani yang siap tanam di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, terancam mengalami kekeringan. Kondisi ini terjadi akibat rusaknya bendung Daerah Irigasi (DI) Krueng Pase sayap kiri yang diterjang banjir bandang pada 26 Januari 2025. Hingga kini, ribuan petani mengeluhkan belum berfungsinya bendung tersebut, padahal sebelumnya direncanakan mulai aktif pada awal 2026.
Sebagai langkah darurat, para petani di Meurah Mulia menginisiasi pemasangan pompa air dan pengeboran sumur bor secara swadaya. Namun, upaya tersebut terkendala keterbatasan air yang tersedia, bahkan sebagian air yang keluar dari sumur bor tergolong payau dan tidak maksimal untuk kebutuhan irigasi persawahan.
Dampak banjir bandang tersebut dirasakan oleh ribuan petani di Kecamatan Meurah Mulia, Samudera, dan Syamtalira Bayu yang hingga kini masih bergantung pada pasokan air irigasi dari bendung yang belum kembali berfungsi.
Mukim Tunong Meurah Mulia, Fauzan, mengaku saat ini pihaknya bersama masyarakat tengah berupaya menggalang dana untuk pembelian pompa darurat dan pengangkatan sumur bor guna mengaliri ratusan hektare sawah yang siap tanam. Namun, keterbatasan biaya menjadi kendala utama, mengingat harga satu unit sumur bor saat ini mencapai sekitar Rp5.000.000. “Saat ini kami harus swadaya,” ujar Fauzan sembari menunjukkan hamparan sawah yang membentang luas.
Fauzan berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat memberikan perhatian serius, mengingat persoalan ini merupakan dampak langsung dari banjir bandang. Ia menambahkan, proyek irigasi dan bendung seharusnya telah rampung, namun akibat diterjang banjir, bendung yang semula direncanakan beroperasi pada Januari 2026 tersebut mengalami kegagalan total.
Sementara itu, salah seorang pemuda Gampong Kuta Batee, Yahdil, menyebut ancaman kekeringan berpotensi menghantam sektor pertanian di Meurah Mulia dan sekitarnya. Ia menyayangkan kondisi tersebut, mengingat saat daerah lain gagal produksi akibat endapan lumpur tebal, lahan persawahan Meurah Mulia seharusnya dapat menjadi penopang panen raya pada Maret hingga April 2026. “Ini membutuhkan penanganan serius dari Bupati Aceh Utara dan dinas terkait,” tegas Yahdil.
Pantauan media di lapangan menunjukkan, sepanjang jalan induk Meurah Mulia, para petani masih melakukan aktivitas membajak sawah, bahkan sebagian sudah mulai menanam padi. Meski ketinggian air di sawah hanya sekitar satu sentimeter di atas permukaan tanah, masyarakat tetap optimistis dapat melakukan panen menjelang dan pasca Hari Raya Idulfitri mendatang. (hd)









