Genta Post
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Opini
  • Artikel
No Result
View All Result
Subscribe
Genta Post
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Opini
  • Artikel
No Result
View All Result
Genta Post
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artikel
  • Opini
Puasa yang Ramah Lingkungan

Puasa yang Ramah Lingkungan

Redaksi by Redaksi
18 Februari 2026
in News
0
A A
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – Puasa Ramadan selama ini lazim dipahami sebagai ibadah personal yang menekankan dimensi ritual, yakni menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Pemaknaan ini tentu tidak keliru, namun menjadi kurang utuh apabila dilepaskan dari konteks kehidupan yang lebih luas. Di tengah krisis ekologis global—yang ditandai oleh perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan pola konsumsi berlebihan—puasa perlu dibaca ulang sebagai praktik etis yang relevan dengan tantangan zaman.

Puasa sejatinya mengandung pesan spiritual sekaligus ekologis. Ia bukan hanya sarana pembentukan kesalehan individual, tetapi juga medium pendidikan moral yang berdampak pada relasi manusia dengan alam. Oleh karena itu, pengarusutamaan puasa yang ramah lingkungan patut diposisikan sebagai agenda strategis ekoteologi Kementerian Agama dalam merespons persoalan keberlanjutan lingkungan hidup.

Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan (QS. al-Baqarah: 183). Ketakwaan tersebut tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, melainkan tercermin dalam tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi. Prof. Nashruddin Baidan, dalam Metodologi Penafsiran Al-Qur’an (2002), menegaskan bahwa pesan Al-Qur’an selalu berdialog dengan konteks sosial. Ibadah tidak boleh dipahami secara ahistoris dan terlepas dari realitas kehidupan yang terus berubah.

Konten Terkait

Kepala BGN Ancam Pecat Secara Tidak Hormat Kepala SPPG yang Lalai hingga Sebabkan Kejadian Fatal

Kepala BGN Ancam Pecat Secara Tidak Hormat Kepala SPPG yang Lalai hingga Sebabkan Kejadian Fatal

19 Agustus 2026
Polres Lhokseumawe Tetapkan Satu Tersangka Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Wali Kota

Polres Lhokseumawe Tetapkan Satu Tersangka Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Wali Kota

18 Agustus 2026
Polres Lhokseumawe Tangkap Pencuri dan Tiga Penadah Pakaian, Kerugian Rp410 Juta

Polres Lhokseumawe Tangkap Pencuri dan Tiga Penadah Pakaian, Kerugian Rp410 Juta

18 Agustus 2026
Lima Pejabat Eselon II Aceh Utara Dilantik, Tiga Pejabat Ditunjuk sebagai Plt

Lima Pejabat Eselon II Aceh Utara Dilantik, Tiga Pejabat Ditunjuk sebagai Plt

18 Agustus 2026

Dalam kerangka tersebut, puasa semestinya melahirkan kesadaran moral yang membatasi perilaku eksploitatif terhadap alam dan sumber daya. Ketika puasa dijalani secara reflektif, ia menjadi latihan pengendalian diri yang berdampak langsung pada sikap hidup sederhana, hemat, dan bertanggung jawab.

Namun, dalam praktik sosial keagamaan, masih dijumpai kecenderungan yang justru berlawanan dengan spirit puasa. Selama Ramadan, konsumsi pangan meningkat, sampah makanan bertambah, dan gaya hidup boros kerap menguat. Padahal Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku berlebih-lebihan (QS. al-A’raf: 31) serta mengingatkan bahwa kerusakan di bumi merupakan akibat perbuatan manusia sendiri (QS. ar-Rum: 41).

Fenomena ini menunjukkan bahwa puasa berisiko terjebak pada rutinitas simbolik apabila kehilangan dimensi pengendalian diri. Di sinilah pentingnya mengembalikan puasa sebagai praktik etis yang membentuk kesadaran ekologis, bukan sekadar kewajiban ritual tahunan.

Dari perspektif spiritualitas modern, Prof. Komaruddin Hidayat memandang puasa sebagai kritik mendasar terhadap peradaban konsumtif. Dalam Agama untuk Peradaban (2019), ia menekankan bahwa puasa mengajarkan self-restraint, yakni kemampuan manusia untuk mengatakan “cukup” di tengah budaya yang mendorong akumulasi dan pemborosan. Nilai ini menjadi sangat relevan ketika krisis ekologis dipicu oleh kerakusan dan eksploitasi alam yang berlebihan.

Kerangka pemikiran tersebut perlu diperkuat melalui pendekatan kebijakan keagamaan. Prof. M. Amin Abdullah, dalam Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif (2006), menegaskan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan dan kebijakan publik. Isu lingkungan hidup harus dibaca sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan yang menuntut respons institusional.

Ekoteologi, dalam perspektif ini, bukan sekadar wacana teologis, melainkan landasan etik yang perlu diterjemahkan ke dalam pendidikan keagamaan, dakwah, serta kebijakan publik yang berorientasi pada keberlanjutan. Puasa ramah lingkungan dapat menjadi pintu masuk strategis bagi agenda tersebut.

Dimensi empatik puasa juga ditekankan oleh Haidar Bagir. Dalam Islam Tuhan Islam Manusia (2017), ia memandang puasa sebagai latihan kepekaan batin dan kasih sayang. Menahan lapar bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk merasakan keterbatasan dan penderitaan makhluk lain. Dalam konteks krisis ekologis, merusak lingkungan berarti mengingkari nilai kasih sayang yang menjadi inti spiritualitas Islam.

Oleh karena itu, puasa yang ramah lingkungan perlu dipahami sebagai gerakan etis dan edukatif. Kementerian Agama memiliki posisi strategis untuk mengarusutamakan ekoteologi melalui pendidikan keagamaan, khutbah, dan kebijakan publik. Puasa, jika dimaknai secara utuh, mampu menjembatani kesalehan ritual dengan tanggung jawab menjaga bumi sebagai amanah ilahi.

 

Tags: Awal Ramadhan 1447 H
ShareTweetPin
Previous Post

Harga Stabil, Antusias Tinggi: Meugang Dewantara Tetap Ramai

Next Post

Sekda Aceh Instruksikan Percepatan Huntara dan Stok Logistik Harus Siap Sebelum Ramadhan

Konten Terkait

Kepala BGN Ancam Pecat Secara Tidak Hormat Kepala SPPG yang Lalai hingga Sebabkan Kejadian Fatal
News

Kepala BGN Ancam Pecat Secara Tidak Hormat Kepala SPPG yang Lalai hingga Sebabkan Kejadian Fatal

19 Agustus 2026

Medan - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono menegaskan akan menjatuhkan sanksi tegas terhadap...

Polres Lhokseumawe Tetapkan Satu Tersangka Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Wali Kota
News

Polres Lhokseumawe Tetapkan Satu Tersangka Kasus Dugaan Pencemaran Nama Baik Wali Kota

18 Agustus 2026

LHOKSEUMAWE — Polres Lhokseumawe menetapkan seorang pria berinisial A (Amirudin), 60 tahun, sebagai tersangka...

Polres Lhokseumawe Tangkap Pencuri dan Tiga Penadah Pakaian, Kerugian Rp410 Juta
News

Polres Lhokseumawe Tangkap Pencuri dan Tiga Penadah Pakaian, Kerugian Rp410 Juta

18 Agustus 2026

LHOKSEUMAWE — Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Lhokseumawe berhasil mengungkap kasus pencurian pakaian...

Lima Pejabat Eselon II Aceh Utara Dilantik, Tiga Pejabat Ditunjuk sebagai Plt
News

Lima Pejabat Eselon II Aceh Utara Dilantik, Tiga Pejabat Ditunjuk sebagai Plt

18 Agustus 2026

LHOKSUKON | Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM., yang akrab disapa...

Next Post
Sekda Aceh Instruksikan Percepatan Huntara dan Stok Logistik Harus Siap Sebelum Ramadhan

Sekda Aceh Instruksikan Percepatan Huntara dan Stok Logistik Harus Siap Sebelum Ramadhan

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2025 PT. Genta Intermedia Global - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Peristiwa
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artikel
  • Opini

© 2025 PT. Genta Intermedia Global - Proudly powered by Altekno Digital Multimedia.