ACEH UTARA | Empat puluh lima hari pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda 25 kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menegaskan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada fase darurat semata. Di bawah kepemimpinan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM (Ayah Wa), arah kebijakan daerah bergerak sistematis dari penyelamatan darurat menuju pemulihan menyeluruh yang menyentuh langsung kebutuhan dasar rakyat.
Sejak hari-hari awal bencana, Ayah Wa memilih turun langsung ke lapangan, menyapa warga, menyalurkan bantuan, sekaligus memastikan negara benar-benar hadir di tengah duka masyarakat. Langkah tersebut tidak berhenti pada simbol empati, tetapi berlanjut secara konsisten hingga hari ke-45, ketika fokus pemerintah daerah kini mengarah pada pemulihan hunian, infrastruktur, pendidikan, kehidupan sosial, serta mitigasi bencana lanjutan.
Rumah Korban Jadi Prioritas Utama
Salah satu langkah paling konkret yang diambil Pemerintah Kabupaten Aceh Utara adalah kepastian pembangunan kembali rumah warga terdampak. Pemerintah menetapkan skema penanganan yang terukur dan berkeadilan: rumah rusak berat atau hancur total dibangun kembali, rumah rusak sedang mendapatkan bantuan sebesar Rp30 juta, dan rumah rusak ringan memperoleh kompensasi Rp15 juta.

Bagi warga yang kehilangan rumah sekaligus tanah akibat longsor atau terseret arus banjir, pemerintah daerah memastikan mereka tetap memperoleh hunian layak, meskipun harus direlokasi ke lokasi yang lebih aman.
Yang paling penting rakyat kembali punya rumah. Negara tidak boleh absen ketika rakyat kehilangan segalanya, tegas Ayah Wa saat menyerahkan bantuan langsung kepada warga di Kecamatan Lapang dan Langkahan.
Hingga hari ke-45 pascabencana, lebih dari 4.000 kepala keluarga telah ditetapkan sebagai penerima hunian tetap tahap awal melalui Surat Keputusan Bupati, dengan pendataan ketat berbasis by name by address guna memastikan ketepatan sasaran.
Bawa Jeritan Rakyat ke Pemerintah Pusat
Keseriusan pemulihan Aceh Utara tidak hanya dilakukan di tingkat lokal, tetapi juga diperjuangkan hingga ke tingkat nasional. Ayah Wa secara aktif menyampaikan kondisi riil daerah dalam berbagai rapat resmi bersama pimpinan DPR RI, jajaran kementerian, Pemerintah Aceh, hingga BNPB.

Dalam kunjungan Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman ke Kecamatan Langkahan, Ayah Wa mendampingi langsung peninjauan lokasi bencana. Kunjungan tersebut menghasilkan langkah konkret berupa penyerahan 100 unit perangkat Starlink lengkap dengan sumber listrik, yang memulihkan komunikasi warga di wilayah yang sempat terisolasi total.
Bencana ini terlalu besar jika ditangani sendiri oleh daerah. Kehadiran negara adalah sebuah keharusan, ujar Ayah Wa.
Gotong Royong ASN dan Pemulihan Sosial
Di tingkat lapangan, tiga belas ribu aparatur sipil negara, PPPK, dan tenaga paruh waktu dikerahkan dalam gotong royong massal membersihkan lumpur di permukiman warga, sekolah, puskesmas, masjid, hingga dayah. Di Kecamatan Langkahan, dari 211 dayah yang terdampak, sebanyak 101 dayah telah kembali aktif meskipun masih membutuhkan dukungan lanjutan.
Kami ingin kehidupan sosial dan pendidikan anak-anak segera pulih, kata Ayah Wa saat memimpin apel gotong royong pemulihan.
Mitigasi Dini dan Infrastruktur Kritis
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga bergerak cepat memperkuat tanggul Sungai Krueng Keureuto di Lhoksukon guna mencegah banjir susulan. Alat berat dikerahkan sebagai langkah mitigasi dini di tengah curah hujan yang masih tinggi.
Langkah ini menandai perubahan pendekatan pemerintah daerah dari sekadar respons bencana menuju upaya pencegahan berkelanjutan.
Dari Duka Menuju Harapan
Berdasarkan data BPBD, bencana ini berdampak pada ratusan ribu jiwa serta merusak puluhan ribu rumah, sekolah, dan fasilitas umum. Ayah Wa bahkan menyebut skala kerusakan kali ini sebagai yang terparah dalam sejarah Kabupaten Aceh Utara.
Namun, di tengah keterbatasan, pemerintah daerah memilih bergerak, bukan menunggu. Pembangunan 104 unit hunian tetap di Gampong Kuala Cangkoy telah dimulai dan menjadi simbol awal kebangkitan masyarakat.
Selama masih ada rakyat yang belum punya rumah, perjuangan kami belum selesai, tegas Ayah Wa.
Empat puluh lima hari pascabencana menjadi penanda penting. Aceh Utara belum sepenuhnya pulih, tetapi arah pemulihan telah jelas. Negara hadir, pemerintah bergerak, dan harapan masyarakat perlahan bangkit dari puing-puing bencana.
Dampingi Lembaga Nasional di Titik Terparah
Memasuki hari ke-45 pascabencana, langkah Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM (Ayah Wa) semakin menegaskan bahwa pemulihan tidak berjalan sendiri. Ia aktif mengawal kehadiran negara dengan mendampingi langsung pimpinan lembaga nasional turun ke titik-titik terdampak paling parah.
Pada 27 Desember 2025, Ayah Wa mendampingi Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo meninjau wilayah terdampak banjir bandang dan longsor. Kunjungan tersebut menghasilkan langkah konkret berupa pengerahan 10 unit alat berat untuk membuka akses jalan warga yang terputus akibat lumpur dan puing.
Sebanyak tujuh unit ekskavator, dua unit buldozer, serta armada truk dikerahkan untuk membersihkan jalur utama dan jalan desa, khususnya di Kecamatan Langkahan yang sempat terisolasi. Selain pembukaan akses, Polri juga menurunkan armada logistik, tangki air bersih, dan kendaraan pengangkut sembako.
Fokus utama kami adalah membuka akses warga dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi agar pemulihan bisa berjalan, ujar Ayah Wa di sela peninjauan.
Langkah ini menjadi penanda transisi penting dari fase tanggap darurat menuju pemulihan mobilitas dan ekonomi masyarakat.
Perkuat Bantuan Kemanusiaan dan Solidaritas Nasional
Kehadiran negara juga diperkuat melalui dukungan kemanusiaan lintas lembaga. Ayah Wa menyambut langsung kunjungan Ketua Umum PMI Pusat Jusuf Kalla di Kecamatan Muara Batu, yang menyerahkan bantuan kemanusiaan sekaligus meninjau kondisi warga pascabencana.
Menurut Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Tgk. Muntasir Ramli, kunjungan tersebut menjadi penguat moril bagi masyarakat dan pemerintah daerah yang tengah berjuang memulihkan kehidupan warga.
Ini bukti bahwa Aceh Utara tidak sendiri. Solidaritas nasional benar-benar hadir, ujarnya.
Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Lhokseumawe dan Kota Banda Aceh yang menyerahkan bantuan logistik sebagai wujud kebersamaan antardaerah di Aceh.
Pendidikan dan Rumah Ibadah Tak Ditinggalkan
Pemulihan pascabencana juga menyasar sektor pendidikan dan keagamaan. Atas instruksi langsung Ayah Wa, seluruh OPD dikerahkan membersihkan sekolah, masjid, dan dayah yang terdampak.
Total Sekolah Aceh Utara Sebanyak 670 namun sebanyak 615 sekolah dinyatakan siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada hari pertama masuk sekolah. Dari jumlah tersebut, 345 satuan pendidikan dapat menyelenggarakan pembelajaran secara aman dan normal.
Sementara itu, sebanyak 270 sekolah lainnya terpaksa menerapkan metode pembelajaran darurat, dengan sistem lesehan atau duduk di lantai, akibat kerusakan fasilitas serta ketiadaan perabot sekolah pascabanjir. Sementara 20 sekolah lainnya baru dibersihkan sebagian, karena sebagian ruang belajar mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang yang di sampaikan langsung oleh Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Utara, Jamaluddin, M.Pd.

Tiga sekolah yang melaksanakan pembelajaran di tenda darurat, yakni SD Negeri 6, SD Negeri 2, dan SD Negeri 24 di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara.

Di Kecamatan Langkahan, gotong royong pembersihan dilakukan di Dayah Malem Diwa. Data Pemkab mencatat 211 dari 286 dayah terdampak, dengan 10 di antaranya rusak berat. Pemerintah memastikan pemulihan dayah menjadi prioritas agar santri dapat kembali belajar dengan aman.

Pemulihan tidak hanya soal bangunan, tetapi juga masa depan anak-anak dan nilai keagamaan, tegas Ayah Wa.
Hunian Sementara dan Tetap Jadi Agenda Utama
Dalam kunjungan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Ayah Wa kembali mengawal komitmen pemerintah pusat untuk membangun hunian sementara serta menyiapkan hunian tetap bagi warga terdampak. BNPB memastikan pembangunan hunian sementara dan infrastruktur pendukung segera dilaksanakan.
Bagi Ayah Wa, percepatan penyediaan hunian menjadi krusial agar warga tidak terlalu lama tinggal di tenda, terlebih menjelang Ramadhan dan di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Menteri Dalam Negeri Turun Langsung
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut meninjau langsung Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, pada Selasa 30 Desember, setelah agenda kunjungan sehari sebelumnya tertunda akibat kesibukan nasional yang mendesak.
Sebulan lebih pascabanjir bandang, jejak kehancuran masih membekas. Dinding rumah warga dipenuhi lumpur yang mengering, sementara batang-batang kayu besar menumpuk di badan sungai yang berubah fungsi menjadi jalur amukan air. Warga setempat menyebut, malam itu banjir datang tanpa peringatan dan menyeret apa saja yang dilaluinya.
Di hadapan wartawan, Tito Karnavian menyatakan bahwa banjir di Aceh Utara tergolong ekstrem. Ketinggian air bahkan mencapai atap rumah warga. Tidak hanya permukiman yang rusak, jaringan irigasi pertanian pun lumpuh, memperparah kerentanan ekonomi masyarakat pascabencana.
Data Dampak Bencana Skala Besar dan Serius
Berdasarkan rekapitulasi laporan sementara Pusat Informasi Posko Bencana Banjir BPBD Aceh Utara yang disajikan oleh Dinas Komunikasi dan Persandian per 8 Januari 2026 pukul 10.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 230 orang.
Selain korban meninggal, sebanyak 2.127 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Bencana ini juga berdampak besar terhadap kelompok rentan, di antaranya 1.433 ibu hamil, 9.525 balita, 6.895 lanjut usia, serta 513 penyandang disabilitas.

Di sektor pendidikan, banjir berdampak pada 74.383 siswa dan 9.071 guru. Korban meninggal dunia dari lingkungan pendidikan terdiri atas satu kepala sekolah, satu guru, dua tenaga pendidik, dan tiga siswa.
Kerusakan infrastruktur dan permukiman juga tercatat cukup signifikan. Sebanyak 72.364 rumah terendam, 3.506 rumah hilang, 6.236 rumah rusak berat, 16.325 rumah rusak sedang, dan 20.280 rumah rusak ringan.
Selain itu, banjir menyebabkan 11.929 hektare lahan padi mengalami puso dan 10.674 hektare tambak terdampak banjir serta lumpur. Kerusakan juga terjadi pada jalan, tanggul sungai, jembatan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, perkantoran, rumah ibadah, pesantren, serta sektor perkebunan, perikanan, peternakan, dan UMKM.
Langkah Konsisten Ayahwa Negara Hadir Nyata di Aceh Utara
Rangkaian pendampingan Ayah Wa terhadap Wakapolri, Kepala BNPB, Menteri Dalam Negeri, Ketua MPR RI, Ketua Umum PMI, serta dukungan antardaerah menegaskan satu hal. Empat puluh lima hari pascabencana bukan masa penantian, melainkan masa kerja keras.
Aceh Utara belum sepenuhnya pulih. Namun dengan langkah nyata membuka akses, membangun hunian, memulihkan pendidikan, serta mengawal bantuan pusat, arah kebangkitan telah dipastikan.
Di tengah duka besar, Ayah Wa memilih berada di garis depan, memastikan negara hadir bukan sekadar dalam janji, tetapi dalam tindakan nyata. [Ms]









