ACEH UTARA – Bupati Aceh Utara, H. Ismail A Jalil, SE., MM, yang akrab disapa Ayahwa, memastikan proses pembersihan material kayu sisa banjir serta pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak berjalan sesuai rencana dan terus dipercepat.
Ayahwa mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara saat ini memfokuskan penanganan pascabencana pada pemulihan kawasan permukiman warga yang terdampak paling parah, khususnya wilayah yang dipenuhi tumpukan kayu dan material bawaan banjir.
“Pembersihan kayu sisa banjir menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat bisa segera pulih. Pemerintah hadir dan bekerja maksimal untuk warga,” ujar Ayahwa saat meninjau langsung lokasi pembersihan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Rabu (21/1/2026).
Untuk mempercepat proses tersebut, Pemkab Aceh Utara mengerahkan 32 unit alat berat yang bekerja secara intensif di sejumlah titik rawan. Penanganan ini turut melibatkan tim dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia guna memastikan proses pembersihan berjalan aman dan sesuai ketentuan.
Dalam kebijakan yang diambil pemerintah daerah, material kayu sisa banjir diperbolehkan untuk dimanfaatkan masyarakat, namun dengan batasan ketat.
“Kayu-kayu ini boleh digunakan, tetapi hanya untuk kepentingan fasilitas umum seperti pembangunan huntara, meunasah, dan masjid. Tidak dibenarkan untuk kepentingan pribadi atau komersial,” tegas Ayahwa.
Selain Kecamatan Langkahan, tumpukan material kayu juga ditemukan di beberapa wilayah lain, termasuk Desa Babah Krueng, Kecamatan Sawang. Bupati Aceh Utara telah menginstruksikan dinas terkait untuk segera melakukan penanganan agar pemulihan di wilayah tersebut tidak tertinggal.
Seiring dengan pembersihan material banjir, Pemkab Aceh Utara juga terus mendorong percepatan pembangunan huntara sebagai solusi sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Ayahwa menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan pascabencana.
“Kami terus bersinergi dengan pemerintah pusat, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, serta para relawan. Pemulihan Aceh Utara adalah kerja bersama,” ujarnya.
Hingga kini, Bupati Aceh Utara memastikan seluruh proses pembersihan dan pembangunan huntara dipantau secara berkala, dengan target warga terdampak dapat segera menempati hunian sementara yang aman dan layak sambil menunggu solusi jangka panjang.









