Lhokseumawe – Aceh tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam dan budaya, tetapi juga sebagai wilayah yang melahirkan tokoh-tokoh penting dalam perjalanan sejarah Nusantara. Salah satu tokoh yang memiliki peran besar adalah Sultanah Nahrasiyah, penguasa Kerajaan Samudra Pasai yang namanya tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin perempuan berpengaruh pada masanya. Keberadaan makam Sultanah Nahrasiyah di Kabupaten Aceh Utara menjadi bukti kejayaan peradaban Islam yang pernah berkembang di kawasan tersebut.
Makam Sultanah Nahrasiyah bukan sekadar situs pemakaman biasa. Kompleks makam ini menyimpan nilai sejarah, budaya, dan religi yang sangat tinggi. Batu nisan yang menghiasi makam bahkan dikenal memiliki ukiran kaligrafi dan ornamen yang menunjukkan tingginya peradaban seni Islam pada masa Kerajaan Samudra Pasai. Tidak berlebihan jika situs ini disebut sebagai salah satu peninggalan sejarah paling berharga di Aceh.
Namun, di tengah berbagai upaya pengembangan sektor pariwisata daerah, keberadaan situs Sultanah Nahrasiyah masih belum mendapat perhatian yang memadai. Banyak masyarakat, bahkan generasi muda Aceh sendiri, yang belum memahami pentingnya situs tersebut dalam sejarah Islam dan kepemimpinan perempuan di Nusantara. Akibatnya, potensi wisata sejarah yang dimiliki kawasan ini belum berkembang secara optimal.
Potensi Wisata Sejarah yang Terabaikan
Sebagai salah satu peninggalan penting Kerajaan Samudra Pasai, makam Sultanah Nahrasiyah memiliki daya tarik yang sangat kuat untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah. Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki situs bersejarah yang berkaitan langsung dengan seorang pemimpin perempuan pada masa kerajaan Islam.
Nilai unik inilah yang seharusnya menjadi kekuatan utama dalam pengembangan wisata Sultanah Nahrasiyah. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat situs bersejarah, tetapi juga dapat mempelajari peran perempuan dalam pemerintahan, perkembangan Islam di Nusantara, serta kemajuan peradaban yang pernah dicapai oleh Samudra Pasai.
Di berbagai negara, situs sejarah yang berkaitan dengan tokoh besar sering kali menjadi magnet wisata yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahun. Bahkan, kisah kepemimpinan perempuan sering menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan perspektif berbeda dalam memahami sejarah. Sayangnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal di Aceh. Akibat kurangnya perhatian, situs Sultanah Nahrasiyah masih lebih sering dikunjungi oleh kalangan peneliti, akademisi, atau pegiat sejarah dibandingkan wisatawan umum. Padahal, jika dikemas dengan baik, situs ini memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu ikon wisata sejarah Aceh.
Keterbatasan Fasilitas dan Pengelolaan
Salah satu kendala utama dalam pengembangan wisata Sultanah Nahrasiyah adalah masih terbatasnya fasilitas pendukung di kawasan tersebut. Sebuah destinasi wisata membutuhkan sarana yang mampu memberikan kenyamanan dan pengalaman yang baik bagi pengunjung. Keberadaan pusat informasi sejarah, papan interpretasi yang menjelaskan latar belakang situs, area parkir yang memadai, fasilitas sanitasi, serta ruang edukasi menjadi kebutuhan penting yang harus dipenuhi. Wisatawan yang datang tidak cukup hanya melihat makam, tetapi juga membutuhkan informasi yang dapat membantu mereka memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Selain itu, penataan kawasan wisata juga perlu dilakukan secara lebih terencana. Pengelolaan situs sejarah harus memperhatikan aspek pelestarian tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung. Dengan pengelolaan yang baik, kawasan wisata dapat tetap terjaga keasliannya sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tanpa adanya pembenahan fasilitas dan pengelolaan yang berkelanjutan, sulit bagi wisata Sultanah Nahrasiyah untuk berkembang menjadi destinasi unggulan yang mampu bersaing dengan objek wisata lainnya.
Minimnya Promosi kepada Masyarakat
Fenomena di Aceh Utara menunjukkan siswa lebih mengenal Yusniar H. Uma dibandingkan Sultanah Nahrasiyah, bahkan ada yang tidak mengetahui siapa beliau. Padahal Sultanah Nahrasiyah merupakan tokoh penting Kerajaan Samudra Pasai di wilayah Aceh Utara.
Hal ini terjadi karena tokoh kontemporer lebih sering muncul di media dan kehidupan sehari-hari, sedangkan tokoh sejarah lokal kurang diperkenalkan di sekolah. Karena itu, muatan lokal perlu diperkuat melalui pembelajaran kreatif seperti cerita bergambar, video edukatif, dan kunjungan ke situs sejarah. Dengan cara ini, siswa dapat mengenal dan menghargai warisan sejarah daerahnya sendiri.
Di era digital saat ini, promosi memiliki peran yang sangat menentukan dalam perkembangan sebuah destinasi wisata. Banyak tempat wisata yang sebelumnya kurang dikenal mampu menarik perhatian publik karena promosi yang kreatif dan konsisten melalui media sosial maupun platform digital lainnya.
Sayangnya, promosi wisata Sultanah Nahrasiyah masih tergolong minim. Informasi mengenai sejarah dan keunikan situs ini belum banyak ditemukan dalam berbagai kampanye wisata daerah. Akibatnya, masyarakat luas kurang mengenal keberadaan situs tersebut. Padahal, kisah Sultanah Nahrasiyah memiliki nilai yang sangat menarik untuk diangkat. Sebagai pemimpin perempuan dalam kerajaan Islam, sosoknya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan. Narasi sejarah seperti ini memiliki daya tarik yang kuat jika dikemas dalam bentuk konten digital, film dokumenter, pameran sejarah, maupun kegiatan budaya.
Kurangnya promosi menyebabkan situs ini belum menjadi bagian penting dalam peta wisata sejarah Aceh. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin keberadaannya akan semakin terpinggirkan di tengah perkembangan destinasi wisata lainnya.
Saatnya Mengangkat Kembali Nama Sultanah Nahrasiyah
Sudah saatnya pemerintah daerah, akademisi, komunitas sejarah, pelaku wisata, dan masyarakat bersama-sama memberikan perhatian lebih terhadap situs Sultanah Nahrasiyah. Warisan sejarah yang begitu berharga tidak boleh dibiarkan terlupakan oleh perkembangan zaman.
Langkah konkret dapat dimulai melalui peningkatan fasilitas, perbaikan akses, penguatan promosi digital, serta penyelenggaraan kegiatan budaya dan edukasi yang melibatkan masyarakat. Sekolah dan perguruan tinggi juga dapat berperan dalam memperkenalkan sejarah Sultanah Nahrasiyah kepada generasi muda melalui berbagai program pembelajaran.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, situs Sultanah Nahrasiyah merupakan simbol kejayaan peradaban Islam dan bukti bahwa perempuan memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara. Nilai-nilai tersebut harus terus diwariskan agar tidak hilang dari ingatan kolektif masyarakat. Apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan, wisata Sultanah Nahrasiyah dapat menjadi salah satu ikon wisata sejarah Aceh yang membanggakan. Keberadaannya tidak hanya menjadi pengingat masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi dan kesejahteraan bagi masyarakat masa kini. Jangan sampai sosok besar seperti Sultanah Nahrasiyah hanya dikenang dalam buku sejarah, sementara jejak peninggalannya perlahan terlupakan di tanah yang pernah dipimpinnya.
Kerja Sama Antarinstansi untuk Mengenalkan Sultanah Nahrasiyah
Pengembangan wisata sejarah Sultanah Nahrasiyah memerlukan sinergi antara berbagai instansi di Aceh. Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh perlu bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Aceh, pemerintah daerah, sekolah, dan perguruan tinggi untuk memperkenalkan kembali sosok Sultanah Nahrasiyah kepada generasi muda.
Sosialisasi perlu difokuskan kepada siswa di Aceh Utara dan Lhokseumawe yang memiliki kedekatan historis dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sekolah dan kampus dapat melakukan kunjungan rutin ke makam Sultanah Nahrasiyah sebagai kegiatan edukatif untuk memperkuat pemahaman sejarah lokal secara langsung di lapangan. Kegiatan ini dapat dilengkapi dengan seminar, diskusi sejarah, lomba karya tulis ilmiah, serta pembelajaran muatan lokal yang membahas peran Sultanah Nahrasiyah dalam perkembangan Islam di Nusantara. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari sumber sejarah aslinya, sehingga tumbuh rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan budaya Aceh
Selain itu, promosi melalui media sosial dan konten digital juga perlu diperkuat agar sejarah Sultanah Nahrasiyah lebih dikenal oleh generasi muda. Dengan kerja sama yang berkelanjutan, Sultanah Nahrasiyah tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi dan kebanggaan masyarakat Aceh.









