PIDIE, GENTAPOST.COM – Tak semua orang memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang selama puluhan tahun hanya tersimpan dalam doa. Bagi Nek Mar, seorang guru mengaji yang telah mengabdikan hidupnya selama sekitar 60 tahun untuk mendidik anak-anak membaca Al-Qur’an, impian melihat Ka’bah akhirnya datang melalui jalan yang tak pernah ia bayangkan.
Momen mengharukan itu terjadi ketika pengusaha sekaligus influencer asal Aceh, Shella Saukia, memberikan hadiah istimewa berupa perjalanan ibadah umrah kepada Nek Mar.
Dalam video yang diunggah langsung melalui akun TikTok Shella Saukia yang berdurasi 57 menit, terlihat pertemuan keduanya berlangsung penuh kehangatan. Percakapan sederhana berubah menjadi suasana emosional ketika Shella mulai menanyakan salah satu impian terbesar Nek Mar.
“Nek Mar pernah punya mimpi melihat Ka’bah enggak?” tanya Shella.
Dengan suara yang terdengar penuh harap, Nek Mar mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Tanah Suci, melihat Ka’bah, dan berziarah ke makam Rasulullah SAW.
Mendengar jawaban tersebut, Shella kemudian menyampaikan tawaran yang seketika mengubah suasana.
“Kalau saya berangkat umrah, Nek Mar mau enggak ikut sama saya?” tanyanya.
Nek Mar menjawab dengan penuh haru. Ia mengaku ingin sekali pergi, jika kondisi fisiknya masih memungkinkan.
Tak ingin membiarkan harapan itu hanya menjadi percakapan, Shella kemudian menyampaikan kabar yang membuat Nek Mar tak kuasa menahan air mata.
“Nanti saya berangkatkan. Mewakili ya, Nek Mar. Saya berangkatkan dua orang,” ujar Shella.
Mendengar ucapan tersebut, wajah Nek Mar seketika berubah. Air matanya mengalir. Perempuan yang selama puluhan tahun mengajarkan anak-anak mengaji itu tampak begitu terharu menerima kesempatan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Dalam pelukan Shella, Nek Mar menangis tersedu-sedu. Ada kebahagiaan, rasa syukur, sekaligus haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Saya sudah yakin, itu takdir Allah. Tidak ada yang lain,” ucap Nek Mar.
Shella kemudian berusaha menenangkan dan menguatkan Nek Mar. Ia berjanji akan mengantarkannya melihat Ka’bah, mengunjungi Raudhah, serta berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.
“Nanti saya bawakan ke makam Nabi Muhammad, saya bawakan ke Raudhah, saya bawakan melihat Ka’bah,” tutur Shella.
Di tengah suasana penuh air mata itu, Nek Mar juga mengenang perjalanan pengabdiannya. Selama kurang lebih 60 tahun, ia mengajar mengaji dan mendidik anak-anak hingga tumbuh dewasa.
Sambil menunjukkan salah seorang muridnya yang hadir dalam video tersebut, Nek Mar seolah ingin memperlihatkan bahwa perjalanan hidupnya selama ini tidak sia-sia. Anak-anak yang dahulu belajar mengaji kini telah tumbuh menjadi orang dewasa.
Shella pun menyampaikan bahwa mungkin inilah jalan rezeki yang telah Allah titipkan kepada dirinya untuk membantu mewujudkan impian Nek Mar.
“Ada satu murid Nek Mar yang Allah panggil. Mungkin rezekinya Nek Mar lewat aku,” kata Shella sambil memeluknya erat.
Shella juga menyampaikan rencana keberangkatan Nek Mar pada Februari 2027. Harapannya, perjalanan tersebut menjadi kesempatan bagi Nek Mar untuk merasakan kebahagiaan beribadah di Tanah Suci menjelang bulan suci Ramadan.
Dari Kisah Firdaus hingga Kebahagiaan Nek Mar
Kebaikan Shella Saukia ini juga mengingatkan publik pada kisah Firdaus, bocah berusia sembilan tahun asal Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie, yang sempat menyita perhatian masyarakat.
Firdaus dikenal karena perjuangannya mengayuh sepeda ontel sejauh kurang lebih 14,5 hingga 20 kilometer untuk mengantarkan ayahnya berobat ke RSUD Tgk. Chik Ditiro Sigli.
Setiap perjalanan menjadi perjuangan tersendiri bagi bocah yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar tersebut. Ia harus berangkat sejak Subuh, sekitar pukul 05.00 WIB, sambil membonceng ayahnya yang menderita penyakit jantung dan asma kronis.
Keterbatasan ekonomi dan kendaraan tidak membuat Firdaus menyerah. Perjalanan yang dapat memakan waktu sekitar dua jam itu menjadi bukti kasih sayang seorang anak kepada ayahnya.
Kisah Firdaus kemudian viral di media sosial dan mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Ia bahkan diundang dalam acara Pagi Pagi Ambyar yang disiarkan Trans TV dan beberapa program lainnya.
Di balik berbagai kisah yang mengundang perhatian masyarakat tersebut, hadiah umrah untuk Nek Mar menghadirkan pesan kemanusiaan yang begitu dalam. Bahwa kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Terkadang, sebuah kesempatan untuk mewujudkan mimpi yang telah dipendam selama puluhan tahun jauh lebih berharga daripada apa pun.
Bagi Nek Mar, perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar perjalanan jauh. Itu adalah jawaban atas doa panjang seorang perempuan yang selama enam dekade telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi demi generasi.
Kini, impian yang dahulu hanya bisa diceritakan dengan penuh harap mulai menemukan jalannya. Di balik air mata Nek Mar, tersimpan kebahagiaan yang mungkin tak pernah mampu ia ungkapkan sepenuhnya.









