Afghanistan – Pembatasan akses pendidikan bagi perempuan di Afghanistan diperkirakan akan semakin melemahkan kualitas pendidikan di negara tersebut. Kebijakan yang membatasi perempuan dan anak perempuan untuk mengenyam pendidikan dinilai dapat berdampak panjang terhadap sistem sekolah.
Seperti dilaporkan Reuters, pembatasan tersebut tidak hanya mengurangi kesempatan perempuan untuk mendapatkan pendidikan, tetapi juga berpotensi mempersempit ketersediaan tenaga pendidik perempuan di Afghanistan.
Kondisi itu menjadi perhatian karena banyak sekolah, khususnya yang melayani siswa perempuan, membutuhkan guru perempuan. Jika generasi perempuan tidak memperoleh pendidikan yang memadai, jumlah calon guru dan tenaga profesional perempuan di masa mendatang juga akan semakin terbatas.
Pembatasan pendidikan bagi perempuan telah menjadi salah satu kebijakan paling kontroversial pemerintahan Taliban sejak kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021.
Anak perempuan telah dilarang melanjutkan pendidikan di sekolah menengah, sementara perempuan juga menghadapi pembatasan dalam mengakses pendidikan tinggi.
Dampaknya dinilai tidak berhenti pada perempuan yang kehilangan kesempatan belajar. Sistem pendidikan secara keseluruhan juga berisiko mengalami penurunan kualitas karena semakin sedikit tenaga terdidik yang tersedia untuk mendukung sekolah dan sektor lainnya.
Para pengamat pendidikan memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat menciptakan persoalan jangka panjang bagi Afghanistan. Berkurangnya jumlah perempuan berpendidikan dapat memengaruhi sektor kesehatan, pendidikan, pelayanan publik, serta perekonomian.
Pembatasan pendidikan juga berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membuat Afghanistan semakin sulit memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil.
Reuters melaporkan, kekhawatiran terhadap kualitas pendidikan muncul di tengah upaya Afghanistan mempertahankan sistem sekolahnya. Tanpa akses pendidikan yang luas bagi seluruh masyarakat, kemampuan negara untuk membangun sumber daya manusia dinilai akan semakin terbatas.
Persoalan tersebut membuat hak perempuan atas pendidikan kembali menjadi sorotan internasional, dengan berbagai pihak menyerukan agar anak perempuan dan perempuan Afghanistan diberikan kembali kesempatan untuk belajar.








