ACEH UTARA – Petani di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, mengeluhkan harga gabah yang terus mengalami penurunan di tengah berlangsungnya musim panen raya. Harga gabah yang sebelumnya mencapai Rp7.700 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp7.100 per kilogram.
Penurunan harga tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi petani, terlebih kondisi ekonomi masyarakat masih dalam proses pemulihan setelah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Aceh Utara pada akhir 2025 lalu.
Bencana tersebut tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor pertanian yang menjadi salah satu sumber penghidupan utama warga.
Sejumlah petani berharap panen raya tahun ini dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga setelah menghadapi berbagai persoalan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, harapan itu kini dibayangi oleh penurunan harga gabah di tingkat petani.
“Kami berharap panen kali ini bisa membantu memulihkan ekonomi keluarga setelah terdampak banjir tahun lalu. Namun kenyataannya harga gabah terus turun dan sangat mengkhawatirkan,” ujar Muhammad, seorang petani di Meurah Mulia, Sabtu (19/9/2026).
Persoalan yang dihadapi petani tidak hanya terkait harga gabah. Selama lima tahun, petani di 9 Kecamatan termasuk Meurah Mulia juga menghadapi kendala dalam menggarap sawah akibat terganggunya pasokan air irigasi setelah Bendung Krueng Pasee mengalami keruntuhan pada 2020 lalu.
Kerusakan bendung tersebut berdampak terhadap sistem pengairan yang menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian di wilayah Aceh Utara. Kondisi itu membuat sebagian petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk menggarap sawah secara optimal, bahkan sebagian lahan menjadi kurang produktif.
Setelah kondisi pengairan mulai membaik dan sawah kembali dapat ditanami secara lebih optimal, petani berharap hasil panen tahun ini mampu meningkatkan pendapatan sekaligus membantu memulihkan perekonomian keluarga.
Namun, harapan tersebut kembali diuji dengan turunnya harga gabah saat panen raya berlangsung.
Menurut petani, biaya produksi justru terus meningkat. Mulai dari biaya pengolahan lahan, pembelian pupuk dan pestisida, hingga upah tenaga kerja harus dikeluarkan sebelum hasil panen diperoleh. Di sisi lain, harga jual gabah justru mengalami penurunan.
Petani berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga gabah. Mereka juga meminta pemerintah daerah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, Bulog, serta pihak terkait lainnya agar hasil panen petani dapat terserap dengan harga yang layak.
Petani secara khusus meminta kepada Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM, yang akrap sapa ayahwa memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut. Menurut mereka, sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di sejumlah kecamatan, termasuk Meurah Mulia.
“Kami memohon kepada Ayah Wa agar memperjuangkan nasib petani. Setelah menghadapi persoalan irigasi selama bertahun-tahun dan terdampak banjir besar 2025, kini kami kembali dihadapkan dengan harga gabah yang terus turun saat panen raya. Kami berharap ada solusi agar petani tidak merugi,” kata petani lainnya.
Para petani khawatir jika harga gabah terus merosot, kondisi tersebut dapat menekan pendapatan dan menurunkan minat masyarakat untuk menggarap lahan pertanian. Dalam jangka panjang, mereka menilai kondisi itu juga dapat berdampak terhadap keberlanjutan produksi pangan dan kesejahteraan petani.
Saat ini, panen raya masih berlangsung di sejumlah gampong di Kecamatan Meurah Mulia. Petani berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menjaga harga gabah tetap stabil sehingga hasil panen dapat memberikan pendapatan yang layak sekaligus membantu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.









