GAZA, Palestina – Sedikitnya 20 warga Palestina, termasuk enam anak-anak, meninggal dunia setelah sebuah bangunan tempat tinggal tujuh lantai ambruk di Kota Gaza, Palestina, pada Rabu (16/9/2026). Hampir 100 orang lainnya diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan saat proses pencarian berlangsung.
Sebuah bangunan hunian yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan udara runtuh secara tiba-tiba. Bangunan tersebut dihuni oleh sejumlah keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.
Korban tewas sedikitnya berjumlah 20 orang, termasuk enam anak-anak. Selain itu, 14 orang dilaporkan mengalami luka-luka, sementara hampir 100 orang lainnya diyakini masih berada di bawah timbunan puing bangunan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (16/9/2026) di Kota Gaza, Jalur Gaza, Palestina. Bangunan yang ambruk berada di kawasan permukiman yang sebelumnya terdampak serangan militer dan mengalami kerusakan struktural.
Menurut laporan otoritas setempat yang di lansir dari Antaranews, bangunan itu sebelumnya telah rusak akibat serangan yang terjadi selama konflik di Gaza. Meski dianggap berbahaya, banyak warga tetap tinggal di bangunan tersebut karena minimnya pilihan tempat tinggal yang aman. Sekitar 2.000 bangunan rusak di Gaza dilaporkan masih dihuni oleh warga yang kehilangan rumah akibat perang.
Tim Pertahanan Sipil Gaza terus melakukan pencarian dan penyelamatan korban. Namun proses evakuasi menghadapi kendala besar karena keterbatasan alat berat dan peralatan penyelamatan. Banyak petugas terpaksa menggali reruntuhan dengan peralatan seadanya untuk mencari korban yang masih hidup.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Palestina, Ramiz Alakbarov, di kutip The United Nations in Palestine menyatakan keprihatinannya atas tragedi tersebut dan menegaskan bahwa setiap menit sangat berharga dalam upaya menemukan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Tragedi ini kembali menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza, di mana puluhan ribu warga masih bertahan di bangunan yang rusak dan berisiko roboh akibat terbatasnya tempat tinggal yang layak pascakonflik.








