LHOKSEUMAWE | Pemandangan memilukan tersaji di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe. Di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menjanjikan perbaikan kesejahteraan, masyarakat justru harus menelan pil pahit: krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang kian menjadi-jadi.
Pantauan gentapost.com di lapangan, antrean kendaraan roda dua hingga roda enam tampak mengular panjang memadati area SPBU. Para pengendara tampak pasrah menghabiskan waktu berjam-jam demi mendapatkan akses BBM yang menjadi urat nadi transportasi sehari-hari.
[SPBU, Blang Peuria, Samudera, Aceh Utara]Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Di saat pemerintahan Presiden Prabowo sering menekankan narasi kemandirian bangsa dan penguatan ekonomi rakyat, realita di lapangan justru berbanding terbalik. Bagi warga, situasi ini terasa kontradiktif dengan semangat pembangunan menjelang HUT RI ke-81.
“Kami menaruh harapan besar pada kepemimpinan Presiden Prabowo untuk menuntaskan masalah dasar seperti ini. Tapi faktanya, kami masih harus antre panjang hanya demi BBM. Ini sangat menghambat aktivitas ekonomi kami di daerah,” ujar salah seorang pengendara di lokasi, Senin (6/7/2026).
[Kodisi SPBU Cunda, Muara Dua, Lhokseumawe]Krisis ini tidak hanya mengganggu mobilitas individu, tetapi juga mulai melumpuhkan roda ekonomi lokal yang bergantung pada kelancaran distribusi logistik. Masyarakat mendesak kabinet Presiden Prabowo Subianto segera melakukan evaluasi total terhadap sistem distribusi BBM bersubsidi agar tidak terus membebani rakyat kecil.
[SPBU Alue Awe, Muara Dua, Lhokseumawe]Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah pusat maupun pihak terkait di daerah mengenai langkah nyata yang akan diambil untuk mengatasi kelangkaan energi yang kian menyengsarakan warga di Aceh Utara dan Lhokseumawe ini.