Aceh Utara | Lima hari Pasca banjir bandang dan longsor menerjang pedalaman Aceh Utara pada rabu, 26 November 2025. Namun waktu belum mampu menghapus jejak kehancuran. Sunyi masih menggantung di udara, bukan sebagai tanda damai, melainkan sebagai bahasa duka yang tak sanggup diucapkan. Lumpur mengering di dinding rumah yang retak, pohon-pohon tumbang menutup jalan, dan tanah longsor memutus nadi kehidupan desa.
Tepat pada Minggu, (30/11) pasca kelima pasca banjir bandang dan longsor distulah Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Kabupaten Aceh Utara, Kamaruddin, memilih untuk melangkah masuk. Bukan melalui jalan yang mudah, melainkan menembus wilayah yang nyaris terisolasi total ketika sebagian akses masih tertutup longsoran, dan bantuan belum sepenuhnya menjangkau warga.
Perjalanan menuju desa-desa terdampak berubah menjadi ujian fisik dan mental. Jalan aspal lenyap tertelan tanah, berganti lumpur licin yang membuat setiap langkah harus dipikirkan matang. Sungai yang meluap belum sepenuhnya surut, arusnya masih deras dan berbahaya. Di beberapa titik, rombongan harus berhenti, memastikan tanah di depan cukup kuat untuk dipijak, karena longsor susulan bisa terjadi kapan saja.
Reruntuhan jembatan memaksa perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Pohon-pohon besar melintang di jalan, sebagian masih menggantung di tebing, seakan menunggu saat untuk jatuh. Desa Lhok Pungki, Gampong Gunci, Riseh Baroh, Riseh Tengeh, hingga Riseh Tunong menjadi titik-titik sunyi yang hanya bisa dicapai dengan keteguhan dan keberanian.
Di sepanjang perjalanan, pemandangan pilu tak terhindarkan. Rumah-rumah warga berdiri miring, sebagian roboh, sebagian lain hanya menyisakan rangka. Perabotan tertimbun lumpur, pakaian tergantung di dahan pohon, dan kebun yang dulu menjadi sumber hidup kini berubah menjadi hamparan tanah rusak. Di sanalah warga bertahan di antara puing dan kenangan.
Kamaruddin tidak datang sebagai tamu yang tergesa. Ia duduk di tanah yang masih basah, sejajar dengan warga yang wajahnya menyimpan lelah dan kehilangan. Ia mendengar kisah-kisah yang disampaikan dengan suara pelan, kadang terputus oleh tangis tentang malam ketika air datang tanpa aba-aba, tentang suara longsor yang mengguncang, dan tentang kepanikan menyelamatkan anak-anak di tengah gelap.
“Hari ke lima pasca banjir Kami harus melihat sendiri,” ujarnya lirih. “Karena banyak desa yang sampai hari ini masih terputus. Jalan sulit, medan berat, dan warga masih bertahan dengan keterbatasan.” kata Kamaruddin
Seorang warga, matanya sembab dan tubuhnya letih, bercerita bahwa sejak hari pertama banjir dan longsor, desa mereka seakan terkurung. Keluar masuk desa hampir mustahil. Bantuan sulit datang. Rumah rusak, kebun hilang, dan hari-hari dilalui dengan rasa cemas akan longsor susulan. Yang tersisa hanyalah harapan agar ada yang mau menembus sulitnya perjalanan untuk melihat keadaan mereka.
Bagi warga, kehadiran Ketua BRA dan rombongan di hari kelima pascabencana bukan sekadar kunjungan. Ia adalah bukti bahwa di tengah medan berat dan sunyi yang menekan, masih ada yang bersedia menempuh risiko demi memastikan mereka tidak dilupakan.
Di desa-desa yang terisolasi itu, harapan tidak datang dalam bentuk janji besar. Ia hadir lewat langkah kaki yang berani menembus lumpur dan longsor, lewat telinga yang mau mendengar, dan lewat kepedulian yang memilih hadir meski jalan menuju ke sana nyaris tak tersisa.
Pasca banjir bandang yang menerjang pada November lalu, waktu telah melangkah 35 hari ke depan. Namun bagi bumi Aceh, luka itu belum juga menutup. Lumpur masih mengering di sudut-sudut rumah warga, menjadi saksi bisu kedahsyatan air yang datang tanpa ampun.
Akses desa yang terputus belum sepenuhnya tersambung kembali, sementara kehidupan masyarakat di pedalaman Aceh Utara masih berjalan tertatih. Nafas kehidupan belum sepenuhnya pulih anak-anak belajar di tengah keterbatasan, para orang tua berjuang menata kembali sisa-sisa harapan, dan malam masih menyisakan rasa cemas.
Aceh sedang tabah menunggu kesembuhan. Di antara puing dan lumpur, harapan tetap bertahan, menanti uluran tangan, kepedulian, dan kehadiran negara untuk memulihkan denyut hidup yang sempat terhenti.
Kini genap dua dekade lebih sejak musibah dahsyat tsunami Aceh 2004, ingatan tentang luka itu belum sepenuhnya pudar. Namun pada 2025, bumi Aceh kembali diuji. Musibah kembali menerjang, seolah mengingatkan bahwa tanah ini tak hanya menyimpan kenangan duka, tetapi juga keteguhan untuk bangkit setiap kali terjatuh. [Ms]









