BIREUEN – Kunjungan kerja Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, ke kawasan Jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Kamis (6/8/2026), diwarnai jeritan hati masyarakat korban banjir. Di hadapan rombongan pemerintah, warga mengaku hingga kini masih berjuang bangkit dari bencana, sementara bantuan yang mereka nantikan belum sepenuhnya diterima.
Keluhan itu disampaikan secara langsung saat Wapres meninjau lokasi terdampak banjir. Salah seorang warga mengungkapkan bahwa banjir telah meluluhlantakkan isi rumah mereka. Perabot rumah tangga yang selama ini menjadi penopang kehidupan sehari-hari rusak total dan tak lagi dapat digunakan.
“Kami kehilangan hampir semua perabot rumah. Sampai sekarang belum ada penggantian,” keluh seorang warga di hadapan rombongan.
Mendengar aspirasi tersebut, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang turut mendampingi kunjungan, langsung berdialog dengan masyarakat. Ia menanyakan apakah bantuan untuk penggantian perabot rumah tangga sudah diterima.
Namun, pertanyaan itu dijawab serempak oleh warga.
“Belum, Pak… belum.”
Jawaban kompak itu menggambarkan masih banyak korban banjir yang belum merasakan bantuan untuk memulihkan kondisi rumah tangga mereka.
Tak hanya soal perabot, warga juga meminta kepastian terkait pencairan dana hidup (jadup) yang dinilai sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa pemulihan pascabencana.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Bireuen, H. Mukhlis ST, menjelaskan bahwa proses penyaluran jadup masih berlangsung secara bertahap. Menurutnya, sebagian warga telah menerima bantuan, sementara sebagian lainnya masih menunggu proses pendataan dan verifikasi.
“Jadup ada yang sudah dapat, ada yang belum dapat. Datanya masih dalam proses. Mohon bersabar,” ujar Mukhlis.
Meski demikian, warga berharap proses pendataan dan penyaluran bantuan dapat dipercepat. Mereka menginginkan kehadiran pemerintah tidak hanya sebatas mendengar keluhan di lapangan, tetapi juga diikuti dengan langkah nyata agar bantuan segera diterima oleh seluruh korban yang terdampak banjir.
Bagi masyarakat Bireuen, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang memperbaiki rumah yang rusak, tetapi juga mengembalikan perlengkapan dasar yang hilang agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Hingga kini, harapan itu masih mereka titipkan kepada pemerintah.








