LHOKSEUMAWE, GentaPost.Com — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia melalui Direktorat Kriya terus mendorong pemulihan sekaligus penguatan ekonomi kreatif masyarakat Aceh melalui pengembangan produk kerajinan lokal.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Kegiatan Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Sulam dan Anyam Tahun 2026 Visitasi II, yang berlangsung di Hotel Rajawali, Kota Lhokseumawe, pada 22–24 September 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ekraf Peduli, yang diarahkan untuk mempercepat rehabilitasi dan pemulihan aktivitas ekonomi pelaku ekonomi kreatif yang terdampak bencana alam di wilayah Sumatera dan Aceh.
Melalui program tersebut, pemerintah tidak hanya mendorong pemulihan aktivitas usaha, tetapi juga memberikan penguatan terhadap produktivitas, kualitas produk, inovasi, serta keberlanjutan usaha para pelaku kriya.
Program Akselerasi Produk Kriya Sulam dan Anyam Tahun 2026 diikuti 52 peserta yang terdiri atas pelaku usaha kriya sulam dan anyaman dari Aceh.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode luring dan daring. Sesi luring pertama telah berlangsung pada 31 Agustus–1 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan secara daring sebelum memasuki Visitasi II.
Visitasi II yang berlangsung pada 22–24 September 2026 menjadi bagian penting dalam mengevaluasi perkembangan peserta sekaligus memperkuat proses pendampingan yang telah dilakukan sebelumnya.
Tingkatkan Kualitas dan Daya Saing Produk
Dalam kegiatan tersebut, para pelaku kriya diarahkan untuk terus meningkatkan kualitas, desain, inovasi, serta daya saing produk agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Pengembangan produk sulam dan anyam tidak hanya diarahkan pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga pada penguatan karakter dan identitas lokal Aceh sehingga memiliki keunikan yang dapat menjadi nilai tambah di pasar.
Kehadiran Pemerintah Kota Lhokseumawe turut memperkuat dukungan terhadap pengembangan sektor ekonomi kreatif daerah.
Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, Haris, S.Sos., M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan pentingnya keberlanjutan program pembinaan dan pendampingan bagi pelaku ekonomi kreatif.
Haris berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan dan pendampingan tersebut untuk meningkatkan kualitas serta desain produk, sekaligus memperluas akses pemasaran.
Menurutnya, penguatan produk kriya lokal tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas usaha, tetapi juga penting dalam membangun ciri khas daerah sebagai bagian dari identitas kreatif Kota Lhokseumawe.
Kolaborasi Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
Haris juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Dengan adanya sinergi tersebut, produk sulam dan anyaman khas Aceh diharapkan semakin berkembang, memiliki nilai tambah, serta mampu menjangkau pasar nasional hingga internasional.
Penguatan identitas lokal menjadi modal penting bagi para pelaku kriya untuk mengembangkan usaha, meningkatkan daya saing, sekaligus membuka peluang promosi dan pemasaran yang lebih luas.
Kegiatan Akselerasi Produk Kriya Sulam dan Anyam di Lhokseumawe menjadi salah satu langkah konkret dalam mendorong kerajinan lokal agar tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi kreatif.
Dengan peningkatan kapasitas, inovasi produk, penguatan pemasaran, dan kolaborasi lintas pihak, sektor kriya di Aceh diharapkan mampu menciptakan peluang usaha baru serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.








