Aceh Tengah | Akses transportasi yang menghubungkan empat desa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, lumpuh total menyusul putusnya jembatan utama di wilayah tersebut. Derasnya arus sungai akibat curah hujan tinggi dalam sepekan terakhir disinyalir menjadi penyebab utama ambruknya struktur bangunan yang memang sudah mengalami penurunan fungsi.
Hingga Rabu (1/4/2026), warga terpaksa mengandalkan jembatan gantung (ayun) sebagai satu-satunya jalur alternatif. Meski masih dapat dilalui, jembatan ayun tersebut memiliki keterbatasan beban yang signifikan. Kendaraan roda empat maupun angkutan hasil bumi tidak dapat melintas, sehingga menghambat denyut nadi perekonomian lokal.
Kecamatan Ketol yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian kini menghadapi tantangan distribusi. Terputusnya akses ini memaksa petani mengeluarkan biaya angkut ekstra karena proses pengangkutan hasil kebun harus dilakukan secara estafet menggunakan sepeda motor atau dipanggul manual melewati jembatan gantung.
Seorang warga setempat, Aman (45), menuturkan bahwa kondisi ini sangat menguras waktu dan tenaga.
“Sekarang kami hanya bisa lewat jembatan ayun. Untuk membawa hasil kebun jadi jauh lebih lama dan harus bolak-balik. Risiko keselamatannya juga lebih besar kalau dipaksakan membawa beban berat,” ujarnya.
Tak hanya sektor ekonomi, sektor pendidikan dan layanan kesehatan juga terdampak. Anak-anak sekolah dan warga yang membutuhkan akses medis darurat harus menempuh waktu perjalanan lebih lama akibat antrean di jembatan gantung yang kini menjadi tumpuan tunggal.
Data awal menunjukkan bahwa meningkatnya debit air sungai pasca hujan deras memicu pengikisan pada fondasi jembatan. Kondisi bangunan yang sudah tua membuat struktur tidak lagi mampu menahan terjangan arus.
Peristiwa ini merupakan alarm bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi ketahanan infrastruktur di wilayah rawan bencana. Pembangunan kembali jembatan dengan spesifikasi yang lebih kokoh menjadi kebutuhan mendesak agar isolasi wilayah tidak berlarut-larut.
Hingga saat ini, masyarakat di empat desa tersebut masih menanti langkah konkret dari dinas terkait untuk melakukan penanganan darurat.
Sementara jembatan permanen belum dibangun, warga berharap setidaknya ada penguatan pada jalur alternatif agar distribusi logistik tidak terhenti total.









