Jakarta – Konflik Iran-Amerika Serikat (AS) yang sudah berlangsung selama 109 hari akhirnya menemui titik terang. Presiden AS, Donald Trump, mengklaim kesepakatan damai antara Washington dan Teheran telah rampung. Meski begitu, Israel tampak belum satu suara dengan keputusan tersebut.
Mengutip laporan Tribunnews, Selasa (17/6/2026), Trump menyebut nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara sudah ditandatangani secara elektronik. Penandatanganan ini melibatkan Trump sendiri, Wapres AS JD Vance, serta Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Dewan Keamanan Nasional Iran membocorkan beberapa poin krusial dalam kesepakatan tersebut:
- Gencatan Senjata: Seluruh pertempuran di lini konflik, termasuk di Lebanon, resmi dihentikan.
- Blokade Dicabut: Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dinyatakan berakhir.
- Selat Hormuz: Mulai Jumat (19/6) mendatang, Selat Hormuz kembali dibuka untuk publik tanpa biaya tol bagi kapal yang melintas.
- Negosiasi Lanjutan: AS dan Iran sepakat duduk bersama membahas nasib program nuklir serta pencabutan sanksi ekonomi dalam 60 hari ke depan. Pertemuan rencananya digelar di Swiss.
Di sisi lain, pejabat senior Iran juga mengklaim adanya kesepakatan terkait pencairan aset Iran senilai 25 miliar dolar AS dan pelonggaran sanksi minyak. Namun, klaim ini buru-buru dibantah oleh pihak JD Vance.
Di tengah optimisme AS dan Iran, Israel justru menunjukkan sikap berseberangan. Tel Aviv secara tegas menyatakan tidak merasa terikat dengan perjanjian tersebut.
Pemerintah Israel menegaskan akan tetap melanjutkan operasi militer mereka di wilayah Lebanon selatan, terlepas dari klaim perdamaian yang diumumkan oleh Washington.
Kondisi ini menyisakan tanda tanya besar mengenai stabilitas kawasan ke depan, mengingat Israel tetap menolak untuk ikut dalam skema perdamaian yang sedang dibangun tersebut.









