GAZA – Pasien kanker di Jalur Gaza menghadapi ancaman kematian yang semakin besar karena akses terhadap pengobatan dan layanan kesehatan terus terbatas di tengah perang dan pembatasan keluar-masuk wilayah tersebut.
Sejumlah dokter yang menangani pasien kanker mengatakan kondisi pasien semakin memprihatinkan. Banyak penderita tidak dapat menjalani pengobatan secara rutin karena keterbatasan obat, peralatan medis, fasilitas kesehatan, serta sulitnya mendapatkan akses ke perawatan khusus.
Dikutip dari Reuters, Kamis (13/8/2026), dokter memperingatkan bahwa keterlambatan pengobatan dapat membuat kondisi pasien memburuk dengan cepat. Pasien kanker umumnya membutuhkan terapi berkelanjutan seperti kemoterapi, radioterapi, operasi, hingga obat-obatan tertentu.
Masalah semakin berat bagi pasien yang membutuhkan perawatan di luar Gaza. Mereka harus melalui proses perizinan untuk meninggalkan wilayah tersebut, sementara pembatasan akses membuat banyak pasien tidak bisa memperoleh perawatan yang dianggap mendesak.
Tenaga medis juga menghadapi keterbatasan serius dalam menjalankan layanan. Konflik telah merusak sejumlah fasilitas kesehatan dan mengganggu rantai pasokan obat serta perlengkapan medis.
Kondisi tersebut membuat dokter harus mengambil keputusan sulit ketika persediaan obat dan fasilitas tidak mencukupi kebutuhan pasien.
Bagi penderita kanker, keterlambatan terapi bukan sekadar persoalan kenyamanan. Terhentinya pengobatan dalam waktu lama dapat mengurangi peluang keberhasilan terapi dan meningkatkan risiko komplikasi maupun kematian.
Situasi itu juga terjadi ketika sistem kesehatan Gaza harus menghadapi beban pasien yang sangat besar akibat konflik. Rumah sakit tidak hanya menangani korban luka perang, tetapi juga pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Dokter dan organisasi kemanusiaan menyerukan agar akses medis bagi pasien kanker segera diperluas. Mereka meminta pasien yang membutuhkan perawatan mendesak dapat memperoleh obat dan layanan kesehatan tanpa hambatan.
Para tenaga medis menilai persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius karena pasien kanker tidak dapat menunggu tanpa batas. Setiap keterlambatan dalam mendapatkan diagnosis, obat maupun terapi dapat berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan dan peluang hidup pasien.
Krisis layanan kesehatan itu menjadi salah satu dampak kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza, di mana warga sipil dengan penyakit serius harus bertahan dalam kondisi fasilitas medis dan akses pengobatan yang sangat terbatas.









