ACEH TENGAH | Senyum getir tampak di wajah seorang ibu saat ia memeluk erat buah hatinya yang masih balita. Bukan di dalam buaian yang nyaman, melainkan di atas derasnya aliran Sungai Besarhana. Tanpa jembatan yang kokoh, mereka terpaksa bergantung pada seutas tali sling baja untuk mencapai Desa Bah, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.
Pemandangan memilukan ini menjadi realitas pahit yang harus dihadapi warga setelah banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan infrastruktur di wilayah tersebut. Jembatan permanen yang dulunya menjadi urat nadi perekonomian dan akses utama warga, kini lenyap disapu amukan air, meninggalkan isolasi yang mengancam nyawa.
Dalam tangkapan layar yang viral di media sosial, terlihat proses evakuasi mandiri yang sangat berisiko. Seorang ibu harus mengenakan pengaman seadanya hanya lilitan tali tambang yang dikaitkan ke sebuah katrol (pulley) pada kabel baja. Sembari mendekap erat anaknya yang dibalut kain merah, ia meluncur perlahan di atas ketinggian, menantang maut demi bisa keluar atau masuk ke desanya.
Beberapa pria dewasa, termasuk petugas berseragam TNI dan warga setempat, tampak membantu menjaga keseimbangan dan mendorong katrol tersebut. Meski terlihat ada tawa sebagai bentuk ketegaran, namun di balik itu tersimpan kecemasan mendalam akan keselamatan mereka.

Bencana banjir bandang yang melanda beberapa titik di Aceh Tengah tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memutus akses transportasi secara total di beberapa desa. Sungai Besar yang biasanya tenang, kini berubah menjadi ancaman dengan arus yang masih cukup kuat dan material bebatuan besar di sepanjang bantarannya.
Warga meminta pemerintah daerah maupun pusat segera mengambil langkah darurat soalnya pembangunan jembatan darurat (Bailey) atau setidaknya akses penyeberangan yang lebih manusiawi dan aman sangat mendesak diperlukan, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia.
Potret ibu dan bayi di atas tali sling ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Di tengah upaya pemulihan pasca bencana, aspek keselamatan transportasi warga di daerah terpencil seringkali luput dari percepatan penanganan.
Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Bah masih harus mengandalkan “jembatan gantung” maut tersebut untuk beraktivitas. Mereka hanya bisa berdoa, semoga setiap luncuran di atas tali itu selalu berujung pada keselamatan, hingga jembatan yang layak kembali berdiri tegak. [Ms]









