Gentapost.com | TEUKU BUDJANG SEULAMAT (1891–1961) Teuku Budjang Seulamat, yang lebih dikenal dengan nama Teuku Budjang Salim, lahir di Gampong Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, pada tahun 1891. Ia merupakan putra dari pasangan Teuku Rhi Mahmud dan Cut Baren, sosok yang berasal dari keluarga terpandang dalam struktur pemerintahan Uleebalang di wilayah Nisam.
Sejak masa kanak-kanak, ia telah ditempa oleh pendidikan agama yang kuat dalam lingkungan keluarga. Bekal spiritual tersebut ia padukan dengan pendidikan formal di sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda, termasuk Kweekschool dan Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).
Setelah menuntaskan pendidikannya, Teuku Budjang kembali ke tanah kelahirannya dan mengemban amanah sebagai pemimpin pemerintahan Zelfbestuur di Nanggroe Nisam. Selain menjalankan roda pemerintahan, ia dikenal sebagai sosok yang teguh berdakwah dan giat dalam mengembangkan pendidikan Islam bagi masyarakat setempat. Namun, sikap kritisnya terhadap ketidakadilan kebijakan kolonial membuat pemerintah Hindia Belanda memandangnya sebagai sosok yang berpengaruh sekaligus membahayakan stabilitas mereka di Aceh.
Akibat posisi politiknya, Teuku Budjang diberhentikan dari jabatannya dan dijatuhi hukuman pengasingan ke Merauke, Papua. Selama dalam masa pengasingan, ia tidak kehilangan semangat; ia justru terus berdakwah, mendirikan tempat-tempat pengajian, serta membina kehidupan keagamaan masyarakat di sana. Aktivitas yang konsisten tersebut kemudian mendorong pemerintah kolonial memindahkannya ke kamp pengasingan Tanah Merah, Boven Digoel sebuah tempat pembuangan bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional yang dianggap paling gigih melawan kolonialisme.
Tradisi lisan keluarga mengisahkan bahwa pada periode berikutnya, Teuku Budjang dipindahkan ke Australia bersama kelompok interniran lainnya selama masa Perang Dunia II. Di negeri orang, ia menata kembali kehidupannya sembari tetap menjaga identitasnya hingga akhirnya dapat kembali ke tanah air.
Sekitar tahun 1952, pasca-kemerdekaan Indonesia, Teuku Budjang kembali ke Aceh. Dedikasinya berlanjut ketika masyarakat memercayakan kepemimpinan kawasan Krueng Geukuh kepadanya. Dalam masa pengabdian tersebut, ia tampil sebagai pelopor pembangunan wilayah dengan memelopori pendirian masjid, pasar, akses jalan, kantor pemerintahan, serta berbagai fasilitas umum lainnya yang menjadi pondasi kemajuan Krueng Geukuh.
Atas jasa-jasanya, masyarakat menyematkan gelar “Budjang Salim”, sebuah pengakuan yang dimaknai sebagai “Budjang yang kembali dengan selamat” setelah bertahun-tahun menempuh jalan panjang pengasingan. Warisan perjuangan tersebut hingga kini masih berdiri kokoh melalui Masjid Besar Bujang Salim di Krueng Geukuh sebuah monumen hidup yang menjadi simbol penghormatan masyarakat terhadap dedikasinya di bidang dakwah, pendidikan, dan pembangunan.
Teuku Budjang Seulamat wafat pada tahun 1961. Meskipun kisahnya belum banyak terungkap dalam narasi historiografi nasional, kiprahnya menempatkan beliau sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah lokal Aceh Utara. Riwayat hidupnya tetap menjadi catatan berharga yang masih sangat layak untuk diteliti lebih dalam melalui arsip kolonial, dokumen nasional, serta catatan keluarga.









