ACEH UTARA – Penampilan tari kolosal bertema kebangkitan Aceh Utara pascabanjir menjadi salah satu sajian paling memukau pada malam kelima peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 Tahun di Lapangan Landeng, Kecamatan Lhoksekon, Jumat (11/9/2026) malam.
Di hadapan ribuan warga yang memadati arena acara, puluhan penari dari berbagai sanggar seni menampilkan pertunjukan yang mengisahkan perjalanan masyarakat Aceh Utara bangkit dari musibah banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.
Pertunjukan diawali dengan visual kondisi bencana yang ditayangkan melalui layar LED raksasa di panggung utama. Tayangan tersebut menggambarkan dampak banjir yang sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat di sejumlah kecamatan.
Suasana kemudian berubah haru ketika para penari menghadirkan adegan kehidupan warga di hunian sementara (huntara), yang menjadi simbol semangat bertahan dan bangkit dari masa-masa sulit.
Dengan balutan busana adat bernuansa Melayu-Pasai, para penari memadukan gerakan tradisional Aceh dengan tata cahaya modern yang memukau. Setiap adegan menggambarkan kebersamaan, gotong royong, serta optimisme masyarakat dalam membangun kembali kehidupan setelah bencana.
Sorak tepuk tangan penonton pecah ketika para penari mengangkat replika rumah dan atribut bertuliskan “HUNTARA”, yang menjadi simbol keberhasilan pemerintah dan masyarakat menyediakan tempat tinggal sementara bagi korban terdampak bencana.
Puncak pertunjukan ditandai dengan pengibaran properti bertuliskan “Pesona Sumatra” yang menggambarkan semangat kebangkitan daerah sekaligus promosi potensi budaya dan pariwisata Aceh Utara kepada masyarakat luas.
Penampilan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat yang memenuhi lokasi acara. Banyak pengunjung mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam karena dinilai sarat pesan kemanusiaan, sejarah, dan semangat pemulihan daerah.
Malam budaya Milad Samudera Pasai ke-800 tidak hanya menjadi ajang hiburan rakyat, tetapi juga ruang refleksi atas perjuangan masyarakat Aceh Utara dalam menghadapi bencana serta menjaga warisan budaya yang menjadi identitas daerah sejak masa Kesultanan Samudera Pasai.
Kemeriahan acara semakin terasa dengan dukungan tata panggung megah, permainan cahaya yang spektakuler, serta antusiasme masyarakat yang bertahan hingga larut malam untuk menyaksikan seluruh rangkaian pertunjukan budaya yang disajikan.









