JAKARTA, GENTAPOST.COM – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Hingga pukul 16.45 WIB, rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp18.176,4 per dolar AS.
Berdasarkan data yang dikutip dari Investing.com, posisi tersebut melemah 0,15 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp18.150 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.130 hingga Rp18.190 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga terlihat dalam pergerakan jangka pendek. Dalam sepekan terakhir, mata uang Indonesia tersebut tercatat melemah 1,06 persen. Sementara dalam periode 30 hari, rupiah mengalami pelemahan sebesar 2,11 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah dinamika pasar valuta asing.
Rupiah Tertekan Sepanjang 2026
Pada periode Januari hingga Oktober 2026, rupiah tercatat bergerak dalam tren pelemahan. Data yang disampaikan menunjukkan nilai tukar rupiah berada sekitar 1,6 persen lebih lemah dibandingkan posisi sebulan sebelumnya yang tercatat Rp17.890 per dolar AS.
Pelemahan rupiah juga disebut sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang regional yang mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Dalam perkembangan perdagangan sore, data lain yang tercantum dalam bahan sumber menyebut rupiah melemah 71,8 poin atau sekitar 0,40 persen menuju kisaran Rp18.180 per dolar AS.
Perbedaan angka tersebut perlu dicermati karena dapat merujuk pada waktu pembaruan atau acuan perdagangan yang berbeda.
Dampak Pelemahan Rupiah
Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang dan bahan baku yang dibayar menggunakan dolar AS. Dampaknya dapat dirasakan oleh sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor maupun konsumen apabila kenaikan biaya tersebut diteruskan ke harga jual.
Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai penerimaan dalam rupiah bagi eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS, meskipun manfaatnya bergantung pada struktur biaya dan kebutuhan impor masing-masing perusahaan.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan dolar AS, arus modal, kondisi ekonomi global, serta sentimen pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Sumber: Investing.com dan data pasar yang disampaikan dalam bahan berita, Rabu (28/10/2026).








