WASHINGTON — Militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran bagian selatan, demikian pernyataan militer AS yang dilansir Al Jazeera, Selasa(26/5/2026).
Serangan ini terjadi justru di saat para negosiator papan atas Tehran tengah berkumpul di Qatar untuk melakukan pembicaraan yang bertujuan mencapai kesepakatan damai dengan Washington.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pihaknya melakukan “serangan bela diri” untuk melindungi pasukan AS dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran.“Sasaran serangan mencakup situs-situs peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau,” kata juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, Senin malam waktu setempat.
“Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sembari tetap menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung,” tambah Hawkins. Namun, CENTCOM tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dampak atau lokasi spesifik dari serangan tersebut.
Sementara itu, sumber-sumber Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sempat menargetkan sebuah kapal AS di laut sebelum serangan AS terjadi. Menurut sumber tersebut, beberapa personel IRGC dilaporkan gugur dalam serangan balasan dari AS tersebut.
Insiden terbaru ini pecah meskipun kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran secara resmi telah diberlakukan sejak 8 April lalu.
alam laporannya dari Washington DC, jurnalis Al Jazeera Alan Fisher menilai bahwa serangan ini kemungkinan besar dapat mengganggu jalannya negosiasi yang sedang berlangsung untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Padahal, Presiden AS Donald Trump disebut “sangat berhasrat” untuk mencapai kesepakatan.
“Ada sejumlah bentrokan kecil seperti ini sebelumnya, terutama sesaat setelah gencatan senjata dimulai. Pada saat itu, Trump menyatakan tidak menganggap insiden-insiden tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata,” ujar Fisher.
“Informasi yang datang dari pihak AS sangat terbatas; kita tidak tahu seberapa besar skala operasi tersebut. Sulit untuk menyimpulkan apakah bentrokan kali ini merupakan hal yang tidak biasa,” tambahnya.
Trump tuntut ‘Kesepakatan Besar’
Kedatangan delegasi Iran, yang meliputi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf di Qatar, bertepatan dengan pernyataan Trump yang menyebut bahwa pembicaraan damai “berjalan dengan baik”. Meski demikian, Trump menegaskan tidak akan menyetujui apa pun kecuali sebuah kesepakatan yang signifikan.
“Ini hanya akan menjadi Kesepakatan Besar bagi semua pihak, atau tidak ada Kesepakatan sama sekali — Kembali ke Garis Depan Pertempuran dan saling menembak, tetapi dengan skala yang lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya — Dan tidak ada yang menginginkan hal itu!” tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Trump juga berupaya mengaitkan negosiasi damai ini dengan komitmen dari negara-negara mayoritas Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan, untuk ikut menandatangani Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) demi menormalisasi hubungan dengan Israel.
“Mungkin saja satu atau dua negara memiliki alasan untuk tidak melakukannya, dan itu akan diterima. Namun, sebagian besar negara harus siap, mau, dan mampu menjadikan Penyelesaian dengan Iran ini sebagai Peristiwa yang jauh lebih Bersejarah daripada yang seharusnya,” tulis Trump lagi.
Ditandatangani pada tahun 2020 selama masa jabatan pertama Trump, Kesepakatan Abraham telah menormalisasi hubungan diplomatik antara Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko. Sudan juga sempat setuju untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, namun sejauh ini belum meratifikasi perjanjian tersebut.
Dalam unggahan berikutnya pada Senin, Trump menambahkan bahwa ia menuntut agar uranium yang diperkaya milik Iran diserahkan kepada AS untuk dibuang, atau “dihancurkan di lokasi, atau di lokasi lain yang dapat diterima, dengan disaksikan oleh Komisi Energi Atom Internasional atau lembaga setara”.
Tanggapan Kemenlu Iran
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin menyatakan bahwa Washington dan Teheran memang telah membuat kemajuan dalam pembicaraan mereka. Kendati demikian, pihak Tehran enggan melebih-lebihkan prospek mengenai terobosan yang akan segera terjadi dalam waktu dekat.
“Menyatakan bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang dibahas adalah hal yang benar. Namun, menyatakan bahwa ini berarti kesepakatan berada di ambang penandatanganan adalah sesuatu yang tidak bisa diklaim oleh siapa pun saat ini,” kata juru bicara kementerian, Esmaeil Baghaei.
Dalam konferensi pers di Teheran, Baghaei juga menegaskan bahwa kedua belah pihak sama sekali tidak membahas program nuklir Iran “pada tahap ini”. Fokus utama dari rangkaian diplomasi yang berjalan saat ini murni difokuskan untuk mengakhiri perang.









