JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump secara resmi memulai penjualan minyak asal Venezuela. Langkah bersejarah ini dilakukan menyusul peristiwa penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026) lalu.
Nilai Penjualan Fantastis
Pada aksi penjualan perdana ini, nilai transaksi tercatat mencapai US$ 500 juta atau setara dengan Rp 8,43 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.863 per dolar AS). Informasi ini dikonfirmasi langsung oleh pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat.
Pihak Gedung Putih mengindikasikan bahwa ini barulah permulaan. Penjualan minyak tambahan diprediksi akan terus berlangsung dalam beberapa hari mendatang untuk menstabilkan pasokan dan transisi aset.
Pemulihan Infrastruktur Minyak
Juru Bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menyatakan bahwa fokus pemerintah saat ini tidak hanya pada penjualan, tetapi juga pada rehabilitasi jangka panjang industri migas di negara tersebut.
“Tim Presiden Trump sedang memfasilitasi diskusi positif yang sedang berlangsung dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela,” ujar Rogers sebagaimana dikutip dari CNN, Jumat (16/1/2026).
Dampak Global
Langkah ini dinilai sebagai titik balik besar dalam peta geopolitik dan ekonomi energi dunia. Dengan dibukanya kembali akses pasar terhadap minyak Venezuela melalui pengawasan AS, diharapkan adanya dampak signifikan terhadap harga minyak mentah global dan stabilitas ekonomi di kawasan Amerika Latin.









