Banda Aceh – Suasana zikir dan doa bersama dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh ke-21 di kompleks Masjid Raya Baiturrahman (MRB), Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), mendadak berubah ricuh. Acara khidmat tersebut sempat diwarnai letusan senjata ketika massa terlihat menurunkan Bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, ketegangan mulai memuncak sekitar pukul 11.00 WIB dan berlangsung hingga 15 menit kemudian. Situasi menegangkan itu turut disiarkan secara langsung oleh sejumlah akun TikTok di lokasi kejadian. Wakapolda Aceh Brigjen Pol Ari Wahyu Widodo beserta jajarannya pun menjadi sasaran penolakan massa saat berupaya membaur di area tersebut.
Kericuhan kian memanas akibat aksi saling dorong hingga pelemparan batu di halaman masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.
Menanggapi insiden tersebut, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh menyatakan bahwa dirinya belum menerima laporan resmi dan baru mengetahui kejadian itu melalui pemberitaan media.
“Oh, kami belum dapat informasi sampai sekarang, karena saya masih di sini,” ujar Dek Fadh di Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).

Mantan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini kemudian mengimbau masyarakat untuk terus merawat kedamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun pasca-penandatanganan MoU Helsinki. Ia menegaskan bahwa keributan tidak membawa keuntungan apa pun.
“Pesan kepada seluruh masyarakat Aceh, mari kita jaga kedamaian ini. Kedamaian, perdamaian yang berkelanjutan. Tidak ada keuntungan dalam keributan,” tegasnya.
Dek Fadh juga mengingatkan bahwa baik dirinya maupun unsur aparat keamanan di Aceh sama-sama merupakan pelaku sejarah masa konflik. Ia menilai tidak ada gunanya kembali mempertentangkan ketegangan antara aparat dan masyarakat.
“Kami ini adalah semua pelaku sejarah. Kami, saya sendiri adalah juga mantan kombatan GAM. Pak Polisi, Pak Kapolda kita juga bekas di Aceh. Jadi pertarungan TNI, pertarungan tidak ada keuntungan bagi kita semua,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh warga Aceh untuk mengalihkan fokus pada kebangkitan ekonomi daerah daripada terjebak dalam gesekan simbol-simbol masa lalu.
“Inilah kesempatan bagi kita, dengan jalannya damai mari kita bangkit dalam ekonomi dan masyarakat kita bisa tumbuh, dan Aceh bisa tumbuh menjadi negeri Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur,” pungkasnya.









