Aceh Utara | Aktivitas penambangan pasir dan batu (Galian C) di sepanjang aliran Krueng Sawang, Kabupaten Aceh Utara, kembali beroperasi meski kawasan tersebut baru saja dilanda banjir besar pada 26 November 2025. Operasional alat berat dan truk pengangkut material kini memicu keluhan warga akibat polusi debu serta kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.
Pantauan di lapangan menunjukkan truk bermuatan material galian hilir mudik melintasi jalan lintas Sawang-Krueng Mane. Kondisi jalan tampak tertutup debu tebal, terutama saat cuaca kering. Situasi ini dirasakan langsung oleh warga yang bermukim di sekitar jalur tersebut, termasuk mereka yang masih menjalani pemulihan pascabencana.
Sejumlah warga mengeluhkan debu yang beterbangan setiap kali truk melintas. Selain mengganggu jarak pandang pengendara, debu juga masuk ke rumah-rumah warga dan lokasi hunian sementara.
“Setiap hari debu masuk ke rumah. Setelah banjir, kami belum pulih sepenuhnya, sekarang harus menghadapi dampak lain dari aktivitas ini,” kata seorang yang tidak ingin disebutkan.
Selain polusi udara, aktivitas Galian C pascabanjir juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan. Warga menilai penambangan di badan sungai berpotensi mengubah kontur aliran air dan meningkatkan risiko banjir susulan apabila tidak diawasi secara ketat.
Kondisi jalan juga menjadi perhatian. Truk bermuatan berat yang melintas berulang kali dikhawatirkan mempercepat kerusakan infrastruktur jalan, yang selama ini menjadi akses utama masyarakat dan jalur distribusi ekonomi.
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya langkah penertiban atau pengawasan intensif dari pihak berwenang di lokasi. Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan aktivitas Galian C tidak memperparah dampak lingkungan serta membahayakan keselamatan dan kesehatan masyarakat. [Red]









