Jakarta – Sejumlah negara Arab dijadwalkan berkumpul di Muscat, Oman, untuk membahas situasi di kawasan serta rencana pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pertemuan ini menjadi perhatian karena selat tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Pertemuan regional tersebut sebelumnya direncanakan berlangsung pada Senin (14/9). Salah satu agenda yang dibahas adalah kesepakatan terkait jalur pelayaran antara Iran dan Oman melalui kawasan Selat Hormuz.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut nantinya akan diinformasikan kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Selat Hormuz memiliki posisi sangat penting bagi perdagangan global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi dan harga minyak dunia.
Namun, rencana pertemuan negara-negara Arab itu kemudian mengalami penundaan. Oman menyatakan pertemuan tersebut ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Sejumlah perbedaan sikap juga muncul di antara negara-negara peserta. Bahrain disebut menolak hadir, sedangkan Arab Saudi mengajukan amendemen terhadap pengaturan yang dibahas.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepahaman Iran dengan Oman tidak serta-merta berarti Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menghadapi sejumlah tantangan. Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.









