MAGELANG — Langkah kaki Muhammad Haekal di Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah, menorehkan tinta emas bagi dunia pendidikan di Kabupaten Aceh Utara. Pemuda kelahiran Desa Awe, Kecamatan Syamtalira Aron, 4 Mei 2006, tersebut resmi dinyatakan lulus sebagai Taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 2026 dalam Sidang Panitia Penentuan Akhir (Pantukhir) yang dihelat pada Kamis, 30 Juli 2026.
Capaian gemilang ini terasa amat spesial. Alumni Madrasah Aliyah Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar itu tercatat sebagai satu-satunya putra daerah asal Aceh Utara yang sukses menembus ketatnya seleksi militer tingkat pusat pada tahun ini.
Bagi keluarga besar, kelulusan Haekal bukan sekadar buah dari kerja keras seorang anak, melainkan sebuah lompatan besar yang membanggakan marwah daerah di kancah nasional.
Di balik keberhasilan pemuda berusia 20 tahun itu, ada peran besar sang ayah, Iskandar, S.E., bersama ibunya, Marlina, S.Tr.Keb.
Iskandar membagikan resep di balik ketangguhan mental dan fisik putranya dalam menghadapi seleksi yang dikenal sangat kompetitif.
“Kuncinya adalah mempersiapkan diri dari awal. Terus belajar, menjaga kesehatan, dan rutin melakukan pembinaan fisik atau binsik jasmani. Insya Allah, dengan ikhtiar tersebut, kelulusan bisa diraih,” ujar Iskandar penuh syukur.
Ia menekankan bahwa gerbang militer tidak bisa diakses secara instan. Generasi muda yang berniat mengikuti jejak serupa wajib menempa diri jauh-jauh hari melalui persiapan yang matang, terukur, dan konsisten.
Keberhasilan Haekal memantik harapan baru sekaligus refleksi mendalam terhadap kualitas pendidikan di tanah kelahirannya, Aceh Utara. Iskandar secara khusus menyampaikan aspirasi kepada bupati setempat yang akrab disapa Ayahwa agar ke depannya pemerintah daerah lebih serius menghadirkan fasilitas pendidikan berkualitas tinggi yang mengadopsi sistem semi-militer di daerah sendiri.
“Harapan kami kepada Ayahwa, agar ke depan di Aceh Utara ada sekolah yang mutunya setaraf dengan SMA Taruna Nusantara,” ungkapnya.
Sebagai langkah taktis yang efisien dan solutif, Iskandar menyarankan agar pemerintah daerah tidak perlu membangun infrastruktur sekolah baru dari nol. Ia menilai optimalisasi fasilitas yang sudah ada jauh lebih rasional.
“Kami menyarankan agar SMA Putra Bangsa yang berlokasi di Lhoksukon ditingkatkan status dan kurikulumnya, serta disetarakan dengan standar kurikulum SMA Taruna Nusantara,” pungkas Iskandar menutup perbincangan.








