Jakarta | Soeharto Jatuh, Aceh Beruba Catatan Tak terasa sudah 28 tahun berlalu sejak tanggal 21 Mei 1998, hari ketika Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP, usia yang masih sangat muda untuk memahami rumitnya persoalan politik nasional. Namun sejak kecil saya memang memiliki ketertarikan mengikuti berita dan perkembangan politik yang muncul di televisi maupun radio.
Kebetulan ketika itu rumah saya sudah memiliki televisi, walaupun di kampung belum banyak keluarga yang memilikinya seperti hari ini. Karena itu, setiap ada berita besar, masyarakat sekitar sering berkumpul dan menonton bersama di rumah kami. Dan ketika kabar pengunduran diri Soeharto disiarkan di televisi, saya masih mengingat bagaimana masyarakat menyaksikannya secara beramai-ramai dengan penuh rasa penasaran dan berbagai komentar.
Bagi saya yang hidup di Gampong, televisi saat itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga jendela untuk melihat bagaimana negara sedang berubah. Saya masih ingat suasana tegang yang terasa di layar kaca. Demonstrasi mahasiswa terjadi di mana-mana, elite politik saling berbicara di televisi, dan bangsa ini seperti sedang memasuki babak baru yang belum diketahui ujungnya.
Di sekolah, yaitu SMP Negeri 2 Tanah Jambo Aye, kami juga mulai banyak mendiskusikan persoalan politik. Walaupun kami hanya anak-anak SMP di daerah, diskusi tentang Soeharto dan Reformasi berlangsung sangat serius di antara sesama kawan sekolah. Kami membicarakan banyak hal dengan cara pandang anak muda yang sedang tumbuh rasa ingin tahunya terhadap politik dan keadaan negara.
Di saat yang hampir bersamaan, situasi Aceh juga mulai berubah. Benih-benih konflik perlahan mulai terasa di lingkungan masyarakat. Gerakan-gerakan anak sekolah mulai muncul, baik dari SMP maupun SMA, yang ikut melakukan aksi ke Kota Panton Labu. Ketika itu suasana benar-benar berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Politik tidak lagi terasa jauh dari kehidupan kami sebagai pelajar.
Saya masih mengingat bagaimana ketika aksi-aksi berlangsung di Kota Panton Labu, sasaran kemarahan massa waktu itu banyak diarahkan kepada toko-toko yang dianggap bukan milik orang Aceh. Sebagai anak muda, saya juga sempat mengikuti arus suasana yang sedang berkembang ketika itu. Namun ada satu momentum yang masih saya ingat hingga hari ini, ketika almarhum Abi guru mengaji menyampaikan bahwa kami tidak boleh ikut turun ke kota. Karena nasihat itulah saya tidak pergi ke Panton Labu pada saat aksi tersebut berlangsung.
Tetapi dalam momentum-momentum berikutnya, saya mulai ikut terlibat dalam berbagai aktivitas yang lebih bernuansa politik. Saat itu saya belum benar-benar memahami arah perjuangan maupun akar persoalan yang sedang terjadi di Aceh. Namun seperti banyak anak muda lainnya pada masa itu, saya tumbuh di tengah situasi ketika emosi, identitas, dan semangat perlawanan bercampur menjadi satu.
Padahal sebelumnya saya termasuk anak yang begitu mengagumi Soeharto. Di mata kami ketika itu, beliau adalah “Bapak Pembangunan”. Kami tumbuh dalam pendidikan yang sangat menekankan kedisiplinan, sopan santun, dan pentingnya kehidupan bernegara. Penataran P4 menjadi bagian penting dalam kehidupan sekolah kami. Dari sana kami belajar tentang tata krama, persatuan, dan penghormatan terhadap negara. Bahkan nama-nama menteri kabinet ketika itu pun banyak yang kami hafal.
Namun konflik Aceh perlahan mengubah semuanya. Ideologi negara yang sebelumnya begitu kuat tertanam mulai tergantikan oleh narasi baru tentang Aceh Merdeka. Dan di usia yang masih sangat muda, tanpa benar-benar memahami sejarah secara utuh, yang tertanam dalam jiwa kami hanyalah rasa permusuhan sesama anak bangsa.
Hari ini saya memahami bahwa sejarah tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Ada luka daerah yang harus dipahami, ada kekuasaan yang harus dikritik, tetapi juga ada pelajaran besar tentang bagaimana sebuah bangsa membutuhkan stabilitas, arah, dan kewibawaan kepemimpinan.
Generasi kami adalah generasi yang menyaksikan jatuhnya seorang presiden di televisi, lalu melihat konflik tumbuh perlahan di kampung sendiri. Dan mungkin karena itulah, kenangan tentang masa itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan kami.









