ACEH UTARA | Pemerintah Kabupaten Aceh Utara secara resmi membuka Pelatihan Metodologi Tahfidz bagi santri di Dayah Ruhul Islam, Kecamatan Meurah Mulia, Rabu (20/5/2026). Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan santri dalam menghafal Al-Qur’an melalui pendekatan yang sistematis, efektif, sekaligus adaptif terhadap tradisi pendidikan Islam di Aceh.
Acara yang berlangsung selama tiga hari, 20-22 Mei 2026, ini dibuka oleh Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM yang diwakili oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus, S.Hi. Sebanyak 100 santri ikut serta dalam pelatihan yang memadukan metode pembelajaran di dalam kelas (in-class) dan di luar kelas (out-class).
Pelatihan ini menghadirkan para pakar tahfidz dan ustaz berpengalaman. Mereka membimbing para santri secara intensif mengenai teknik menghafal cepat, manajemen konsistensi mengulang hafalan (*muraja’ah*), hingga strategi menjaga kualitas hafalan dalam jangka panjang.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas santri ini merupakan implementasi nyata dari visi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam mewujudkan daerah yang bangkit, sejahtera, bermartabat, dan berkelanjutan.
“Pemerintah Aceh Utara berkomitmen terus meningkatkan mutu pendidikan dayah. Melalui program pembinaan ini, santri tidak hanya dituntut untuk sekadar menghafal, tetapi juga dibekali metode yang tepat agar hafalan Al-Qur’an mereka kuat, terjaga, dan paling penting dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Muhammad Yunus.
Selain fokus pada aspek kognitif dan teknik menghafal, pelatihan ini juga menitikberatkan pada pembinaan mental serta spiritual santri. Para peserta ditempa untuk menumbuhkan kedisiplinan, kesabaran, dan keikhlasan yang menjadi fondasi utama dalam proses interaksi dengan Al-Qur’an.
Melalui standardisasi metodologi ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap dapat mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya unggul secara akademis dan agama, melainkan juga memiliki akhlak mulia untuk menjadi teladan di tengah masyarakat.
Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Aceh Utara sebagai salah satu daerah yang konsisten merawat tradisi pendidikan Islam, sembari terus berinovasi meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan dayah.









