Banda Aceh – Kabar duka datang dari keluarga Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) RI, Nezar Patria. Ayahandanya, H. Sjamsul Kahar bin M. Daham Nuh, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Kamis (24/9/2026) pukul 02.20 WIB.
Sjamsul Kahar yang dikenal sebagai tokoh pers nasional dan pendiri Harian Serambi Indonesia mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari menjalani perawatan akibat penyakit yang dideritanya.
Kepergian pria kelahiran Sigli, 9 Oktober 1945, itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, insan pers, dan masyarakat Aceh. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai salah satu sosok yang berperan besar dalam perkembangan dunia jurnalistik di Aceh.
Selain mendirikan Harian Serambi Indonesia, Sjamsul Kahar juga pernah memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode, yakni 1985-1991, 1991-1995, dan 1995-1998. Kiprahnya dalam membangun ekosistem pers di Aceh menjadikan namanya dikenal luas di kalangan wartawan hingga tingkat nasional.
Dari RSUDZA, jenazah almarhum dibawa ke kediamannya di Jalan Utama Keutapang-Mata Ie, Lorong Hikmah, Gampong Gue Gajah, Kabupaten Aceh Besar. Sejumlah keluarga, sahabat, dan rekan sejawat tampak berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa.
Pihak keluarga menyebutkan jenazah akan dimakamkan di TPU Taman Abadi, Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung ba’da Zuhur setelah dishalatkan di Masjid Al-Anshar Gampong Mulia.
Di saat-saat terakhir kehidupannya, Sjamsul Kahar didampingi keluarga besar. Putranya, Nezar Patria, yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, turut berada di sisi sang ayah selama menjalani perawatan hingga mengembuskan napas terakhir.
Bagi banyak wartawan di Aceh, Sjamsul Kahar bukan hanya pendiri media dan pemimpin organisasi profesi. Ia juga dikenal sebagai guru, pembimbing, dan tokoh yang membuka jalan bagi lahirnya generasi jurnalis di Tanah Rencong.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh pers yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia jurnalistik. Namun, jejak pengabdian dan warisan pemikirannya akan terus hidup dalam perjalanan pers Aceh dan Indonesia.








