BANDA ACEH | Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, mengimbau seluruh satuan pendidikan di Aceh untuk mempertimbangkan pelaksanaan pembelajaran dari rumah apabila kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin parah dan membahayakan kesehatan siswa maupun guru.
Imbauan tersebut disampaikan Murtahalamuddin melalui sebuah video berdurasi 2 menit 58 detik yang diunggah melalui akun TikTok @abulaoot pada Jumat (16/10/2026). Ia meminta setiap satuan pendidikan mengambil langkah berdasarkan kondisi kualitas udara di lingkungan sekolah dan tempat tinggal peserta didik.
Murtahalamuddin menyampaikan, keselamatan dan kesehatan warga sekolah harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah pembelajaran tatap muka masih dapat dilaksanakan atau perlu dialihkan sementara ke pembelajaran jarak jauh.
Menurutnya, apabila kondisi kabut asap dinilai sudah membahayakan, pihak sekolah dipersilakan mengambil keputusan untuk meliburkan siswa dari aktivitas tatap muka. Namun, kegiatan pembelajaran harus tetap berjalan melalui sistem pembelajaran jarak jauh atau work from home (WFH) bagi tenaga pendidik sesuai kebutuhan dan mekanisme yang diterapkan sekolah.
“Silakan satuan pendidikan mempertimbangkan dan memutuskan apabila sekolah perlu diliburkan karena kondisi asap yang sudah membahayakan. Namun, pembelajaran harus tetap berjalan melalui pembelajaran jarak jauh, baik secara daring maupun melalui layanan komunikasi yang memungkinkan materi pelajaran tetap diterima siswa,” demikian arahan Murtahalamuddin dalam video tersebut.
Sebaliknya, apabila kondisi udara masih memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, siswa dan guru diimbau menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan kabut asap. Sekolah juga diminta terus memantau perkembangan kondisi udara sebelum menentukan metode pembelajaran yang paling aman.
Ia turut meminta satuan pendidikan segera menyampaikan informasi kepada siswa dan orang tua apabila pembelajaran tatap muka dihentikan sementara dan dialihkan ke sistem daring atau pembelajaran jarak jauh.
Menurutnya, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak selama belajar dari rumah. Orang tua diharapkan turut mengawasi kegiatan anak, memberikan fasilitas pembelajaran sesuai kemampuan, serta mengingatkan mereka agar tidak berkeliaran atau beraktivitas di luar ruangan ketika kabut asap membahayakan kesehatan.
Langkah tersebut juga bertujuan mencegah siswa tertinggal materi pelajaran meskipun kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk sementara tidak dilaksanakan secara tatap muka.
Lebih lanjut, Murtahalamuddin menyampaikan bahwa pihaknya menunggu surat edaran Gubernur Aceh terkait penanganan dampak kabut asap karhutla. Setelah surat edaran tersebut diterbitkan, kebijakan dan langkah tindak lanjut akan segera dilaksanakan sesuai arahan pemerintah provinsi
Ia meminta seluruh satuan pendidikan menyikapi kondisi tersebut secara bertanggung jawab dengan memperhatikan perkembangan kualitas udara di masing-masing wilayah. Keputusan mengenai pelaksanaan pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh harus mengutamakan keselamatan siswa dan guru tanpa mengabaikan keberlangsungan pendidikan.
Dengan demikian, sekolah diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi kondisi kabut asap, sembari menunggu kebijakan lebih lanjut dari Pemerintah Aceh agar kegiatan pendidikan dapat kembali berlangsung secara normal ketika situasi telah aman.









