ACEH UTARA – Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Kabupaten Aceh Utara sukses menggelar puncak Talk Show Peutrang Mata pada Kamis (6/8/2026) di Fora Kupi, Lhoksukon, mulai pukul 13.30 WIB. Kegiatan ini mengusung tema “Bangkitkan Sinergi Membangun Aceh Utara melalui Implementasi MoU Helsinki.”
Talk show tersebut menjadi forum strategis untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, politisi, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen perjuangan dalam mendorong pembangunan Aceh Utara yang lebih maju dan berkelanjutan. Kegiatan ini secara resmi di buka oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Aceh Utara, Mawardi M., SE., yang akrap sapaan Tgk Adek.

Dalam sambutannya, Ketua BRA Kabupaten Aceh Utara, Kamaruddin, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah awal BRA dalam memperkuat komitmen mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan berpedoman pada semangat perdamaian yang lahir melalui Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki l, Finlandia pada 15 Agustus 2005.
Menurutnya, implementasi nilai-nilai perdamaian membutuhkan dukungan dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah, agar cita-cita yang terkandung dalam MoU Helsinki dapat diwujudkan melalui program pembangunan yang nyata.

“Talk Show Peutrang Mata bertujuan membangkitkan kesadaran kolektif serta memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun Aceh Utara. Perdamaian yang telah diraih melalui MoU Helsinki harus menjadi katalisator utama bagi pembangunan ekonomi, sosial, dan pendidikan di kabupaten Aceh Utara,” ujar Kamaruddin.
Ia menambahkan, BRA Aceh Utara berkomitmen terus membangun kolaborasi yang harmonis antara masyarakat, pemerintah daerah, kalangan akademisi, politisi, serta seluruh elemen perjuangan. Menurutnya, sinergi tersebut merupakan kunci utama agar nilai-nilai perdamaian tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi mampu diwujudkan dalam berbagai program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta sejumlah tokoh penting Aceh Utara. Hadir di antaranya Bupati Aceh Utara yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Hamdani, S.Ag., M.Sos., perwakilan Ketua DPRK Aceh Utara Mawardi M., SE., perwakilan Kesbangpol Kabupaten Aceh Utara, Panglima Wilayah Pasee, Panglima Daerah dan Sago se-Kabupaten Aceh Utara, perwakilan Kapolres Aceh Utara yang diwakili Kapolsek Lhoksukon, Danramil Lhoksukon, unsur Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), akademisi, organisasi Muda Seudang, Aneuk Jaringan Syuhada (JASA) Aceh Utara, Pasukan Inong Balee, serta jajaran pengurus BRA Aceh Utara.

Perwakilan Kesbangpol Kabupaten Aceh Utara melalui Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Kemasyarakatan, Iskandar, S.E., menyampaikan apresiasi atas inisiatif BRA dalam menyelenggarakan forum diskusi publik tersebut. Menurutnya, Talk Show Peutrang Mata menjadi ruang yang produktif untuk melahirkan gagasan-gagasan konstruktif sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dalam membangun Aceh Utara yang lebih inklusif, damai, dan berkeadilan.
Sesi diskusi dipandu oleh seorang Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Tingkat Nasional dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) Juanda. Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Tgk. Nazaruddin, S.Sos.I., M.Ag., juga mantan Anggota DPRK Aceh Utara, serta Dr. Rizqi Wahyudi, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.

Kedua narasumber mengulas berbagai tantangan dan peluang implementasi MoU Helsinki dalam kebijakan pembangunan daerah. Mereka menekankan pentingnya menjaga semangat perdamaian melalui penguatan tata kelola pemerintahan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Selain pemaparan materi dan diskusi interaktif, acara juga dimeriahkan dengan penampilan para juara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Kabupaten Aceh Utara, Tgk Fadhil Auliya Farisky yang menambah kekhidmatan sekaligus semarak suasana kegiatan.

Menutup rangkaian acara, Kamaruddin kembali mengingatkan bahwa perdamaian Aceh merupakan hasil perjuangan panjang yang diwujudkan melalui penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga, merawat, dan mengisi perdamaian tersebut dengan karya serta kolaborasi yang bermanfaat bagi daerah.
“Melalui penyelenggaraan Talk Show Peutrang Mata ini, kami berharap semangat MoU Helsinki tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi terus diimplementasikan dalam bentuk sinergi dan pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Aceh Utara,” pungkasnya.
.









