JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengganggu penerbangan di Indonesia. Sebanyak delapan bandara masih ditutup pada Senin (7/9/2026) akibat sebaran abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Dua bandara yang melayani wilayah Jakarta, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, termasuk yang terdampak.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah berlangsung sejak Jumat malam. Abu vulkanik dilaporkan membumbung hingga sekitar 20.000 kaki di sisi Pulau Jawa dan mencapai 50.000 kaki di sisi Sumatera serta sebagian wilayah Banten.
Dampaknya terasa luas. Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 170.000 penumpang terdampak akibat gangguan penerbangan. Lebih dari 1.500 penerbangan dibatalkan atau mengalami penundaan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah belum dapat memastikan kapan kondisi penerbangan kembali normal. Pergerakan abu vulkanik sangat dipengaruhi kondisi cuaca yang dinamis.
“Keselamatan penerbangan menjadi prioritas,” demikian kebijakan pemerintah dengan memperpanjang penutupan sejumlah bandara utama, termasuk Soekarno-Hatta, hingga Senin sore.
Dampak erupsi tidak hanya dirasakan sektor penerbangan. Sebaran abu vulkanik juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Sementara itu, kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan Lampung, dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik.
Pemerintah masih memantau perkembangan erupsi, kondisi cuaca, serta arah pergerakan abu sebelum menentukan kapan operasional bandara dapat kembali dibuka.
Situasi penerbangan diperkirakan masih dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi atmosfer di sekitar Selat Sunda.









