Jakarta| Dua kapal tanker milik Indonesia hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz per 26 Maret 2026. Keduanya adalah PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Dilansir detikNews, sebagaimana tertera pada situs MarineTraffic, kapal Pertamina Pride terdeteksi berada di sebelah utara Kota Dammam, Arab Saudi. Adapun kapal Gamsunoro berada di dekat pesisir Kuwait dan Irak.
Berdasarkan pernyataan Pertamina International Shipping, kapal Pertamina Pride mengangkut kargo untuk kebutuhan energi nasional. Sedangkan Gamsunoro melayani pengangkutan untuk mitra pihak ketiga (non-Pertamina).
“Keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas kami. Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri,” ujar Vega Pita, Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping, melalui akun resmi Instagram @pertaminainternationalshipping.
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz juga menurun signifikan. Sepanjang bulan ini, hanya sekitar 99 kapal yang melintas, jauh di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai 138 kapal per hari. Padahal, jalur ini merupakan rute penting bagi sekitar seperlima distribusi minyak dunia.
Sebagian kapal juga mulai mengubah rute pelayaran. Sejumlah kapal memilih jalur yang lebih dekat ke wilayah Iran, alih-alih melewati koridor utama di tengah selat, guna meningkatkan keamanan.
Analisis BBC menunjukkan sekitar sepertiga dari pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Di antaranya terdapat 14 kapal yang berlayar dengan bendera Iran serta sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terhubung dengan perdagangan minyak Teheran.
Sembilan kapal lainnya dimiliki perusahaan yang beralamat di China. Adapun enam kapal tercatat menjadikan India sebagai tujuan akhir. Sejumlah kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz tampak memilih rute yang lebih panjang dari biasanya.
Data pelacakan sebuah kapal tanker berbendera Pakistan menunjukkan kapal itu berlayar lebih dekat ke pantai Iran pada 15 Maret, alih-alih menempuh jalur umum yang berada di bagian tengah selat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mendapat instruksi dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengamankan pasokan minyak mentah (crude oil) dari sejumlah negara.
Dilansir detikFinance, kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif terhadap potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Terlebih, Iran hingga kini belum membuka akses Selat Hormuz bagi Indonesia.
Atas dasar itu bahwa Presiden semalam memerintahkan kepada saya dan tim untuk segera mencari pasokan-pasokan minyak kita dari hampir semua negara. Kemudian mengoptimalkan semua energi yang ada pada kita,” ujar Bahlil saat melakukan sidak di SPBU Colomadu, Jawa Tengah, Kamis (26/3/2026).
Ia menegaskan, pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan energi nasional, termasuk cadangan dan stabilitas harga. Terlebih, kata Bahlil, konflik yang terjadi saat ini belum ada yang mengetahui kapan berakhirnya.
Bahlil juga memastikan saat ini ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), baik bensin maupun solar, serta LPG, dalam kondisi aman.
“Dalam berbagai kesempatan sekalipun dalam kondisi yang memang hampir semua dunia kena tetapi kita bersyukur kepada Allah atas perintah Bapak Presiden dan dukungan rakyat hari ini BBM di negara kita tercinta baik daripada bensin, solar maupun LPG terpenuhi dengan baik,” katanya.
Bahlil juga meminta dukungan masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak.
“Saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah tapi masalah kita semua. Saya memohon, menyarankan agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak. Dengan bijak yang tidak perlu saya sarankan jangan,” ujarnya.
Sebuah kapal tanker minyak asal Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah adanya koordinasi diplomatik antara pemerintah Thailand dan Iran. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.
Menurut Sihasak, kapal milik Bangchak Corporation tersebut melintas pada Senin (23/3/2026), menyusul komunikasi yang ia lakukan dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari. Dalam pembicaraan itu, pihak Thailand meminta jaminan keamanan bagi kapal-kapalnya yang harus melalui jalur strategis tersebut
“Mereka menjawab bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami menyampaikan daftar kapal yang akan melintas,” kata Sihasak sebagaimana dikutip Bangkok Post.
Keberhasilan pelayaran ini terjadi sekitar dua pekan setelah kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, diserang proyektil di kawasan yang sama.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Ia menyebut sejumlah negara telah menjalin komunikasi dengan Iran guna memastikan keamanan pelayaran mereka.
Menurut Araghchi, Iran memberikan pengawalan bagi kapal-kapal dari negara yang dianggap bersahabat atau dalam kondisi tertentu dinilai perlu. Beberapa negara yang disebut di antaranya China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India.
Meski demikian, ia menegaskan kapal yang terkait dengan negara yang dianggap musuh atau terlibat konflik tidak akan diizinkan melintas. Negara seperti Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara Teluk disebut tidak mendapatkan izin transit.
“Dua kapal India melintas beberapa malam lalu, begitu pula dari negara lain, bahkan Bangladesh, saya kira. Negara-negara ini berbicara dan berkoordinasi dengan kami, dan hal ini akan terus berlanjut di masa depan, bahkan setelah perang berakhir,” lanjut Sihasak









