ACEH UTARA – Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di kawasan Landing, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (10/9/2026) malam. Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti Majelis Haflah Al-Qur’an dan Seulaweut yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800.
Kegiatan yang berlangsung pada malam keempat perayaan tersebut menjadi magnet bagi ribuan masyarakat yang memadati lokasi acara. Mereka hadir untuk menyaksikan pembacaan Al-Qur’an, lantunan seulaweut, serta berbagai kegiatan keagamaan yang merefleksikan identitas Samudera Pasai sebagai salah satu pusat peradaban Islam tertua dan terbesar di Nusantara.
Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM., yang akrab disapa Ayah Wa, hadir langsung bersama Ketua Panitia Milad Samudera Pasai ke-800, M. Jhony, SH., unsur Forkopimda, para ulama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Sebelum menghadiri kegiatan di panggung utama, Ayah Wa terlebih dahulu meninjau sejumlah stan pameran yang menampilkan produk UMKM, layanan publik, serta berbagai karya dan inovasi dari instansi pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat.
Kehadiran Bupati mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan peserta pameran. Dalam kesempatan itu, Ayah Wa berdialog dengan para pelaku UMKM sekaligus memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan peringatan delapan abad berdirinya Kesultanan Samudera Pasai.
Usai meninjau stan pameran, Bupati bersama rombongan mengikuti Majelis Haflah Al-Qur’an dan Seulaweut di panggung utama. Sejumlah qari terbaik tingkat Aceh, nasional, hingga internasional tampil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan suara merdu dan penuh penghayatan. Penampilan mereka menghadirkan suasana khidmat yang menyentuh hati para hadirin.
Selain pembacaan Al-Qur’an dan lantunan seulaweut, kegiatan malam itu juga dirangkaikan dengan penyerahan santunan kepada anak yatim. Program santunan tersebut akan dilanjutkan pada rangkaian kegiatan berikutnya dengan target penerima sebanyak 800 anak yatim, selaras dengan peringatan delapan abad berdirinya Samudera Pasai. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial yang dihadirkan dalam momentum bersejarah tersebut.
Dalam sambutannya, Bupati Aceh Utara menjelaskan bahwa jumlah penerima santunan sengaja disesuaikan dengan angka peringatan Milad Samudera Pasai ke-800.
“Kita menargetkan santunan untuk 800 anak yatim. Jika jumlah tersebut tidak mencukupi dari Aceh Utara, maka akan kita lengkapi dengan melibatkan anak-anak yatim dari daerah tetangga seperti Aceh Timur dan Bireuen. Ini sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian yang ingin kita hadirkan dalam momentum bersejarah ini,” ujar Ayah Wa.
Pada kesempatan yang sama, Ayah Wa juga mengungkapkan bahwa malam puncak peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 yang akan berlangsung pada Minggu malam, 13 September 2026, akan diisi dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dinilai berjasa dalam pembangunan dan kemajuan Kabupaten Aceh Utara.
“Pada malam penutupan nanti, kita akan memberikan penghargaan kepada para pejuang dan tokoh pembangunan yang telah memberikan kontribusi besar bagi Kabupaten Aceh Utara. Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian mereka kepada masyarakat,” katanya.
Acara tersebut dipandu oleh Dato’ Seri Tgk. Syekh Zubaili, S.Sos.I., yang juga merupakan Anggota DPRK Aceh Utara Komisi I. Dengan pembawaan yang komunikatif serta sarat pesan keagamaan, ia berhasil menghadirkan suasana yang hangat, religius, dan penuh makna sepanjang kegiatan berlangsung.

Majelis Haflah Al-Qur’an dan Seulaweut tidak hanya menjadi sarana syiar Islam dan hiburan religi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali kejayaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam yang memiliki peran besar dalam perkembangan peradaban dan dakwah Islam di Nusantara. Melalui kegiatan ini, semangat keislaman, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap warisan sejarah dan budaya diharapkan terus tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat Aceh Utara.
Perpaduan nilai religius, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sejarah yang ditampilkan dalam malam keempat perayaan tersebut semakin menegaskan bahwa Milad Samudera Pasai ke-800 bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum untuk memperkuat identitas, persatuan, dan semangat kebangkitan masyarakat Aceh Utara dalam menatap masa depan. [Muhammad Sayuti]









