Pidie Jaya | Anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage, S.I.P., kembali mengguncang perhatian publik. Bukan lewat pidato di ruang sidang yang sejuk dan formal, melainkan dengan turun langsung ke lapangan menyusuri lumpur, menembus puing, dan berdiri di hadapan tumpukan kayu raksasa yang melumpuhkan infrastruktur serta kehidupan warga Aceh.
Dalam kunjungan mendadak yang dirangkai dengan penyaluran bantuan kemanusiaan di Kabupaten Pidie Jaya, Azhari Cage tanpa tedeng aling-aling menunjuk pembalakan liar dan eksploitasi korporasi sebagai biang kerok banjir bandang yang terus berulang dan kian ganas di Desa Mancang, Kecamatan Murah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Senin (29/12/25)

“Ini bukan takdir. Ini kejahatan lingkungan,” tegasnya dalam pernyataan yang viral di media sosial. Yang kaya semakin kaya, sementara rakyat kecil menanggung penderitaan. Kayu-kayu ini adalah bukti nyata pembalakan liar pemotongan rapi, ilegal, dan masif yang berujung pada banjir bandang super parah di Aceh.”
Tumpukan kayu tersebut diduga kuat berasal dari kawasan hulu yang hutan-hutannya kian gundul. Saat hujan deras melanda, kayu-kayu itu hanyut, menyumbat sungai, dan memicu banjir bandang yang menghancurkan rumah, lahan pertanian, serta fasilitas umum.

“Jangan lagi mendengar laporan yang hanya menyenangkan telinga. Fakta di lapangan sangat jelas. Inilah bukti pengambilan kayu secara brutal yang hanyut bersama banjir bandang di Aceh,” ujarnya lantang.
Aksi di Pidie Jaya ini merupakan bagian dari rangkaian Gerilya Kemanusiaan yang digagas dan dijalankan langsung oleh sang Senator. Sebelumnya, Azhari Cage telah menyambangi sejumlah daerah terdampak banjir parah, di antaranya Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, hingga Kota Lhokseumawe.
Kini, publik menanti langkah nyata pemerintah pusat dan daerah menyusul suara keras yang disuarakan Azhari Cage. Ia mendesak investigasi menyeluruh dan penindakan tegas terhadap aktivitas korporasi di kawasan hulu hutan Aceh yang selama ini diduga kebal hukum.
“Masyarakat yang menerima bantuan hari ini adalah korban keserakahan segelintir oknum di hulu. Kita tidak bisa terus-menerus hadir dengan bantuan, tapi membiarkan sumber masalahnya tetap hidup,” pungkasnya.









