Jakarta | Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pesaing utamanya, Gadi Eisenkot, sama-sama menyatakan kesiapan memimpin Israel setelah pemilihan umum pada Selasa (27/10/2026) belum menghasilkan pemenang yang jelas. Hasil sementara menunjukkan kedua kubu belum memiliki cukup kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Netanyahu menyerukan pembentukan pemerintahan nasional sayap kanan yang kuat. Sementara itu, Eisenkot menilai hasil pemilu menunjukkan penolakan publik terhadap kelanjutan kepemimpinan Netanyahu dan mendesaknya mundur dari dunia politik.
Hasil penghitungan awal yang dilaporkan Reuters memperlihatkan persaingan ketat di tengah sistem politik Israel yang terfragmentasi. Dengan sekitar 48,4 persen suara telah dihitung, blok Netanyahu diproyeksikan memperoleh 55 kursi, sedangkan kubu Eisenkot diperkirakan meraih 50 kursi. Partai-partai Arab diproyeksikan mendapatkan 15 kursi.
Angka tersebut masih dapat berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara.
Persaingan Memimpin Pemerintahan
Kedua tokoh menghadapi tantangan besar untuk mengamankan dukungan parlemen. Knesset, parlemen Israel, memiliki 120 kursi, sehingga sebuah pemerintahan membutuhkan dukungan sedikitnya 61 kursi untuk mencapai mayoritas.
Sebelum penghitungan suara berkembang lebih jauh, sejumlah jajak pendapat keluar dari tempat pemungutan suara atau exit poll menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Beberapa proyeksi menempatkan kedua blok pada posisi seimbang, sedangkan proyeksi lainnya memberikan keunggulan tipis kepada salah satu kubu.
Kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya.
Kebuntuan ini bahkan berpotensi menguntungkan Netanyahu. Ia dapat tetap menjalankan tugas sebagai perdana menteri sementara selama proses negosiasi pembentukan koalisi berlangsung. Jika berbagai upaya membentuk pemerintahan gagal, Israel juga berpotensi menghadapi pemilu baru.
Netanyahu Soroti Ancaman Iran
Dalam pidatonya di hadapan pendukung Partai Likud di Yerusalem pada Rabu dini hari, Netanyahu menekankan pencapaian militer Israel dan menyerukan pembentukan pemerintahan sayap kanan yang kuat.
Ia juga mengangkat kemungkinan kerja sama lebih lanjut dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadapi Iran.
Netanyahu mengatakan Israel sedang menghadapi peluang bersejarah untuk mengatasi ancaman Iran melalui kerja sama dengan Washington. Ia menegaskan bahwa kepentingan strategis negara harus menjadi prioritas.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa isu keamanan nasional dan ancaman regional masih menjadi bagian penting dari strategi politik Netanyahu untuk mempertahankan dukungan publik.
Eisenkot Desak Netanyahu Mundur
Berbeda dengan Netanyahu, Eisenkot menyatakan bahwa hasil pemilu mencerminkan keinginan masyarakat untuk mengakhiri kepemimpinan perdana menteri petahana tersebut.
Mantan kepala militer Israel itu menilai Netanyahu seharusnya menerima pesan politik dari pemilih dan mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia politik.
Eisenkot juga memperingatkan agar persoalan keamanan negara tidak dijadikan alat untuk memperjuangkan kepentingan politik pribadi. Ia meminta lembaga pertahanan Israel tetap mengutamakan kepentingan nasional di tengah persaingan pembentukan pemerintahan.
Meski tampil sebagai penantang utama Netanyahu, Eisenkot belum memiliki jalan yang mudah menuju kekuasaan. Ia hampir menutup kemungkinan membentuk pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai-partai Arab, padahal kelompok tersebut berpotensi memainkan peran penting dalam menentukan hasil negosiasi koalisi.
Partai Kecil Berpotensi Menentukan Arah Koalisi
Sistem parlementer Israel membuat partai-partai kecil memiliki posisi strategis ketika tidak ada satu blok yang menguasai mayoritas kursi.
Partai-partai sayap kanan dan religius yang dipimpin tokoh seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich diproyeksikan memperoleh gabungan 13 kursi dalam blok Netanyahu. Sementara itu, partai-partai Arab di luar kedua blok utama berpotensi menjadi penentu dalam proses pembentukan pemerintahan.
Namun, persoalan dukungan politik tersebut tidak mudah diselesaikan. Sikap Eisenkot yang cenderung menolak pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab mempersempit pilihan koalisinya.
Negosiasi diperkirakan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebagaimana pernah terjadi dalam sejumlah pemilu sebelumnya di Israel.
Hasil resmi akhir yang diperkirakan diumumkan pada Kamis atau Jumat akan menjadi penentu langkah politik berikutnya.
Partisipasi Pemilih Mencapai 77,7 Persen
Komisi Pemilihan Umum Israel mencatat tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari dua dekade dan meningkat sekitar tujuh poin persentase dibandingkan pemilu 2022.
Pemilu kali ini menjadi pemilihan umum pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang kemudian diikuti rangkaian perang dan konflik di Gaza, Lebanon, serta kawasan terkait Iran.
Hasil pemungutan suara menjadi tolok ukur bagi masyarakat Israel dalam menilai kepemimpinan pemerintah, kebijakan keamanan, dan penanganan konflik yang berlangsung sejak serangan tersebut.
Presiden Institut Demokrasi Israel, Yohanan Plesner, menilai proyeksi awal menunjukkan kemunduran besar bagi koalisi Netanyahu. Namun, ia mengingatkan bahwa Eisenkot juga belum dapat dianggap sebagai pemenang karena penghitungan suara masih berlangsung.
Eisenkot, Mantan Jenderal yang Menantang Netanyahu
Eisenkot, 66 tahun, muncul sebagai penantang utama Netanyahu dengan mengandalkan rekam jejaknya di bidang militer dan keamanan.
Ia pernah menjabat sebagai kepala staf militer Israel dan bergabung dengan kabinet perang yang dibentuk setelah serangan Hamas pada 2023. Namun, ia meninggalkan kabinet tersebut sekitar delapan bulan kemudian karena perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan Netanyahu.
Eisenkot juga memiliki pengalaman pribadi yang berat dalam perang Gaza setelah kehilangan seorang putra dan dua keponakannya.
Meskipun menawarkan perubahan kepemimpinan, pandangannya mengenai keamanan nasional tetap keras. Ia menolak pembentukan negara Palestina dan menyatakan bahwa kemampuan militer Hamas harus dihancurkan atau dilumpuhkan.
Eisenkot mengkritik hasil perang Gaza dengan alasan Hamas masih bertahan sebagai kekuatan yang menguasai wilayah tersebut.
Masa Depan Politik Israel Masih Belum Pasti
Hasil pemilu yang belum menghasilkan mayoritas membuka kemungkinan berlangsungnya negosiasi politik yang panjang. Netanyahu masih berpeluang mempertahankan kekuasaan sementara, sedangkan Eisenkot harus mencari dukungan tambahan untuk membangun pemerintahan yang dapat bertahan di parlemen.
Jika tidak ada kubu yang mampu mengumpulkan sedikitnya 61 kursi, Israel berpotensi menghadapi kebuntuan berkepanjangan atau kembali menggelar pemilu.
Untuk sementara, persaingan Netanyahu dan Eisenkot belum menghasilkan pemenang yang pasti. Arah pemerintahan Israel berikutnya akan sangat bergantung pada hasil penghitungan akhir dan kemampuan masing-masing kubu membangun koalisi.









