LHOKSEUMAWE – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan aplikasi berbasis template telah mempermudah produksi konten visual. Kemudahan tersebut tetap perlu diimbangi dengan pemahaman teknik, seni, dan kemampuan menyampaikan pesan melalui desain maupun video.
Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan Desain Grafis dan Lomba Video Kreatif bertema “Bangkitkan Inspirasi dengan Kreasi” yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMJ KPI) UIN Sultanah Nahrasiyah (UINSUNA) Lhokseumawe, Selasa (29/9/2026).
Pelatihan menghadirkan dua pemateri, yakni Juanda, S.I.Kom. yang membahas videografi dan sinematografi serta Willy Surya Prayoga, S.Sn., CLMT., MLTT. dengan materi desain grafis.
Willy mengajak peserta tidak terpaku pada aplikasi ketika memproduksi desain. Menurutnya, desain merupakan proses mengolah berbagai elemen visual untuk menyampaikan pesan kepada audiens.
“AI pakai otak, desain grafis pakai perasaan. Bukan hanya soal gambar, tapi juga tulisan. Penggunaan warna, tipografi, imagenary dan layout,” kata Willy.
Ketua Program Studi KPI UINSUNA, Zanzibar, M.Sos., turut menyoroti kecenderungan produksi desain dengan mengandalkan template dan generator AI. Menurutnya, mahasiswa tetap perlu mempelajari teknik dan unsur seni di balik sebuah desain.
“Desain Grafis bukan hanya hal ordinary yang dilakukan dengan mudah dengan aplikasi tersedia template dan genertor berbasis AI., tetapi juga teknik dan seni. Bahkan aplikasi seperti Canva pun masih perlu dibedah lebih dalam,” ujar Zanzibar.
Pada materi videografi, Juanda menekankan teknik pengambilan gambar harus mengikuti tujuan informasi yang hendak disampaikan. Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa sebelum masuk ke proses produksi yang lebih kompleks.
“Berbicara Videografi tentunya wajib mempelajari cara pengambilan gambar yang benar sesuai dengan tujuan yang di highlight. Videografi berfokus pada pengambilan gambar sesuai realita suatu peristiwa,” kata Juanda.
Menurut Juanda, sinematografi memiliki proses produksi yang lebih kompleks karena melibatkan unsur pencahayaan dan pembentukan suasana untuk mengikuti jalan cerita.
“Videografi kemudian dikembangkan sebagai produksi yang lebih kompleks dengan istilah sinematografi, dimana sinematografi berisi kumpulan videografi dicreate dengan lighting dan penggambaran suasana sesuai alur cerita yang di buat,” ujarnya.
Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) UINSUNA, Dr. Mahdi, M.H., mengatakan proses pendidikan mahasiswa perlu disertai pengalaman di luar kegiatan perkuliahan reguler.
“Tidak cukup dengan SKS di dalam kampus untuk mendapatkan pengalaman,” kata Mahdi.
Mahdi menyebut pelatihan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan sekaligus mempersiapkan keterampilan yang diperlukan setelah menyelesaikan pendidikan. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada panitia, organisasi mahasiswa, pemateri, dan peserta yang terlibat.
Selain sesi pelatihan, HMJ KPI UINSUNA menggelar lomba video kreatif sebagai bagian dari rangkaian “Bangkitkan Inspirasi dengan Kreasi”. Lomba tersebut memberi ruang bagi peserta untuk menerapkan kemampuan produksi visual melalui karya video.
Kegiatan ini didukung sejumlah media partner, di antaranya Serambinews.com, Notula.news, Gentapost.com, Aliansi.id, serta media online lain yang menjadi mitra KPI UINSUNA.









