Lhokseumawe| Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Kota Lhokseumawe, Abiya Tarmidzi Umar, S.Pd., menyampaikan keprihatinan serius atas fenomena sebagian masyarakat yang dengan mudah melontarkan hujatan, cacian, dan komentar tidak beradab kepada ulama yang menyampaikan penjelasan hukum Islam secara terbuka.
Menurut pimpinan Dayah Darul Ikhwan tersebut, polemik semacam ini bukan sekadar persoalan perbedaan pendapat biasa, tetapi gejala yang lebih dalam: melemahnya adab terhadap ahli ilmu dan tumbuhnya budaya bereaksi sebelum memahami.
“Ketika ulama berbicara berdasarkan ilmu, dalil, dan tanggung jawab keagamaan, lalu masyarakat menjawabnya dengan hujatan, maka yang sedang bermasalah bukan hanya cara berkomunikasi, tetapi juga cara berpikir dan cara memandang ilmu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ulama bukan figur publik biasa yang dinilai hanya berdasarkan apakah pernyataannya menyenangkan atau tidak. Ulama memikul amanah ilmu, dan dalam banyak keadaan mereka harus menyampaikan sesuatu yang pahit, sebagaimana dokter yang terkadang harus memberi obat pahit demi kesembuhan pasien.
“Kalau ada pasien marah kepada dokter hanya karena obatnya pahit, lalu menuduh dokter membencinya, maka sesungguhnya yang bermasalah bukan dokter, tetapi cara pasien memahami maksud pengobatan,” kata Abiya Tarmidzi.
Menurutnya, kondisi serupa sedang terjadi di tengah masyarakat. Sebagian orang tidak membedakan antara penjelasan hukum syariat dengan serangan personal atau penghinaan terhadap kelompok tertentu. Akibatnya, ruang diskusi kehilangan kejernihan, digantikan oleh ledakan emosi dan penilaian tergesa-gesa.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam sejarah Islam, banyak umat terdahulu tergelincir bukan semata karena kurangnya ibadah, tetapi karena hilangnya penghormatan terhadap ahli ilmu.
“Ketika masyarakat mulai lebih percaya pada emosi sendiri daripada bimbingan orang berilmu, di situlah awal kekacauan. Umat terdahulu banyak celaka karena menganggap dirinya cukup pandai untuk menilai segalanya, hingga tidak lagi menghormati pewaris ilmu para nabi,” tegasnya.
Ia mencontohkan bagaimana kelompok-kelompok menyimpang dalam sejarah Islam lahir dari keberanian berbicara tanpa ilmu dan mudah meremehkan ulama. Mereka merasa memiliki semangat agama, tetapi kehilangan adab dan metodologi berpikir yang benar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika ulama telah tiada, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, lalu mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini, menurutnya, cukup menjadi peringatan bahwa meremehkan ulama bukan perkara kecil. Jika kewibawaan ulama terus dirusak, maka masyarakat akan semakin mudah dipimpin oleh opini liar, emosi massa, dan kesimpulan dangkal.
Abiya Tarmidzi juga mengajak masyarakat agar tidak mudah merasa paling benar hanya karena membaca potongan informasi atau mengikuti arus komentar media sosial.
“Media sosial sering membuat orang merasa cukup tahu hanya dengan beberapa menit melihat potongan video. Padahal ilmu tidak lahir dari potongan, tetapi dari kedalaman, sanad, adab, dan pemahaman utuh,” ujarnya.
Ia menilai orang yang matang secara pemikiran justru akan lebih tenang, melakukan tabayyun, dan menjaga lisannya. Sebaliknya, mereka yang mudah menghujat biasanya sedang dikendalikan emosi sesaat tanpa mempertimbangkan akibat jangka panjang.
“Dampaknya memang tidak selalu langsung terlihat. Namun dalam kehidupan, ada akibat yang datang perlahan: hati menjadi keras, sulit menerima nasihat, mudah memusuhi kebenaran, dan hilangnya keberkahan dalam hidup,” katanya.
Sebagai penutup, Ketua HUDA Kota Lhokseumawe mengajak masyarakat yang telah terlanjur ikut menghina, mencela, atau menyerang ulama agar segera mengevaluasi diri.
“Tidak ada kemuliaan dalam memenangkan emosi sambil kehilangan adab. Jika ada yang terlanjur melampaui batas, maka jalan terbaik adalah kembali kepada Allah, memperbaiki ucapan, menjaga kehormatan ahli ilmu, dan belajar lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan,” pungkasnya.
Ia berharap masyarakat Aceh tetap menjaga identitasnya sebagai masyarakat yang besar dengan tradisi dayah, ilmu, dan penghormatan kepada ulama, bukan menjadi masyarakat yang mudah terpecah hanya karena gagal mengelola perbedaan secara beradab.








